Monday, April 11, 2005

[HALAMAN GANJIL]

David Lurie
-----------

>> Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR

Saya mengenal lelaki itu karena bisnis. Waktu itu saya di kantor, dan karena tugas, saya yang kadang-kadang harus menemui orang yang berurusan dengan kantor. Tak pernah terbayangkan ternyata lelaki blak-blakan itu adalah seorang profesor sastra Inggris. Awalnya saya tidak terkesan dengan perkenalan itu, bukan karena dia tidak ramah, melainkan lebih karena dia terlampau mengejutkan untuk sebuah pertemuan pertama. Biasanya kita mengawali perkenalan dengan ramah-tamah gaya lama, yang isinya wajar bisa diterima siapa pun; misalnya tentang kabar hari ini, berita sehari-hari, termasuk kejadian politik yang baru terjadi. Seberapa sering kita bisa dengan lega membicarakan yang benar-benar tentang diri sendiri? Tentu saja jarang, sebab diri sendiri kerap mengalami kegelisahan, yang bila dibagi pada orang lain, kita tidak bisa menjamin dia akan bisa menerimanya dengan lega; tentu saja karena ada aba-aba 'belum saatnya', atau 'terlalu awal' untuk sebuah perkenalan.
- Untuk lelaki seumur saya, 52 tahun, cerai, saya pikir saya bisa menyelesai masalah seks cukup baik; itu yang diucapkannya tak lama setelah kami duduk bersama, memperkenalkan diri, berbasa basi sangat singkat. Apa maksud dia bilang seperti itu? Itu ucapan terus terang atau semacam pengakuan? Apa maksud dia menyelesaikan masalah dengan pelacur? Cara menyelesaikan masalah seks cukup baik bagi seorang duda? Terus terang ceritanya membuat selera seks saya juga langsung naik; sebagaimana lelaki pada umumnya saya kadang-kadang memiliki masalah seks. Ternyata benar. Dia tak sungkan bilang punya simpanan, seorang call girl kelas tinggi, berkulit coklat; persetubuhan mereka yang lama dan liat---seperti perkawinan dua ekor ular. Sebenarnya dia sendiri agak jatuh cinta pada pelacur muda itu, tapi dalam banyak hal dia tahu diri tak bisa menjadi seorang kekasih bagi perempuan itu. Dia tetap seorang pelanggan biasa, tak ada haknya melarang perempuan itu menerima lelaki pelanggan lain. Tapi dengan begitu lelaki itu juga jadi tahu cara memenuhi hasrat seksualnya; kalau tidak mengencani istri-istri koleganya sesama dosen, yang bisa dirayu bila mau, dia tidak segan mencari pelacur lain. Atau pegawai perempuan universitas. Untuk lelaki seperti dia, seorang profesor, berpenghasilan cukup, punya jabatan, dapat beasiswa, hidup sendiri, tak banyak keinginan, sederhana, dia bisa membelanjakan uang untuk membayar perempuan yang disukainya, siapa saja. Hidup yang tentu saja sangat nyaman bagi seorang kasanova, atau womanizer.
Profesor berkulit putih itu bernama David Lurie, dosen kajian puisi, spesialisasi puisi zaman Romantik, mengajar di Universitas Teknik Cape. Dia sedang menekuni studi tentang Lord Byron, yang entah kenapa mirip dengan dia dalam satu sisi: suka perempuan, dan perempuan tampaknya juga mudah sekali jatuh memberikan cinta dan seluruh tubuh pada pelukannya. Barangkali sudah begitu nasib menentukan jalan hidupnya, dan dia sekadar menjalaninya. Sebenarnya saya bosan dengan indikasi seakan-akan sejumlah penyair atau penulis itu banyak yang punya skandal seks. Penyair kan tidak beda dengan pengusaha, misalnya. Pengusaha atau politikus juga banyak yang punya skandal seks, tapi kenapa itu tampaknya kurang istimewa bila dibandingkan skandal seks seniman?
Dua kali menikah, dua kali cerai, punya anak satu, dengan banyak skandal seks dalam hidupnya. Dia tak menyangkal memang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup, melakukan sesuatu yang semata-mata disukainya. Apalagi keinginan seseorang yang hidupnya nyaris tak kekurangan? Keinginan itu adalah menuntaskan kepuasan batin. Untuk itu pun dia tahu cara memenuhinya: dia menulis kritik, sudah tiga buku dia hasilkan. Meskipun dia juga mengakui dengan sederhana bahwa ketiga buku itu 'tidak menimbulkan riak sedikit pun' di dunia kritik sastra. Dia berharap karya tentang Lord Byron itu bisa menimbulkan riak, setidaknya kepuasan untuk dirinya. 'Kepuasan' saya pikir cocok untuk mengidentifikasikan dirinya. Bila belum puas, dia akan terus; bila sudah, dia akan berhenti.
Setelah perkenalan singkat itu saya pikir dia akan mengenalkan salah satu perempuan teman kencannya pada saya, atau menceritakan perselingkuhan lainnya. Yah, itu harapan saya. Tapi ternyata saya kecele. Dia pernah bilang, sebenarnya dia tidak disukai kolega perempuannya, apalagi yang punya kecenderungan 'feminis'. Di jurusannya ada satu-dua dosen perempuan yang terang-terangan ingin menyingkirkan dia, tapi sejauh ini gagal. Saya tidak tahu apa itu disebabkan pengaruhnya di kampus, atau justru karena kesenioran dan kesarjanaannya. Saya pikir karena kesarjanaannya; artinya, menyingkirkan seorang profesor pasti butuh usaha luar biasa, atau kejadian luar biasa; tidak bisa memecat begitu saja seperti pada dosen muda. Seperti dinosaurus, yang begitu luar biasa, sampai hanya bisa musnah oleh kejadian yang juga harus ekstrem.
Saya juga sebenarnya bisa dibilang tidak akrab benar dengan dia. Persahabatan kami memang tambah baik setelah perkenalan itu, tapi itu lebih disebabkan bisnis. Menurut saya sendiri, dia lelaki pendiam dan penyendiri. Karena itu dia sesekali menawari minum bareng, dan saya terima dengan terbuka. Untuk apa saya tolak? Dia simpatik. Saya pikir karena itu dia bisa meniduri perempuan manapun; selain itu dia tampan dan punya segala yang bisa diinginkan perempuan. Dia rela memberi hadiah berharga bahkan pada pelacur favoritnya; mana ada lelaki mata ke ranjang bisa begitu pemurah? Ketampanan memang merupakan pemikat yang tak kenal kendala. Lord Byron juga tampan, dan meskipun kewarasannya diragukan, bajingan, dia bisa meniduri banyak perempuan dan dia sendiri jadi rebutan. David pernah cerita kenapa bisa begitu mudah dekat dengan perempuan. Sejak kecil dia diasuh oleh banyak perempuan di keluarganya; bisa pembantu, bibi, atau istri-istri ayahnya. Barangkali secara alamiah dia punya bakat dekat dengan perempuan, dan perempuan juga nyaman ada didekatnya. Disebabkan ketampanan, sekali dia melirik, OK sajalah. Sebenarnya, bagi dia sendiri, perempuan dan seks itu fungsinya benar-benar untuk melepaskan energi dan protein yang menggumpal dan berlebihan. Saya tak bisa komentar apa-apa tentang itu. Waktu terakhir kali kami bertemu, dia bilang jatuh cinta pada seorang mahasiwanya. Dari ceritanya, saya mengira gadis itu berkulit hitam.- Kami bertemu di jalan sepi belakang kampus. Saya menyapanya, tapi ternyata akhirnya dia saya undang minum di rumah. Dia seolah-olah memberi cahaya. Saya jatuh cinta dan tiba-tiba merasa jadi budak Eros. Dan setelah itu, terjadilah.
Dari nadanya dia berkata sungguh-sungguh. Tapi bila sangsi, mana bisa kita percaya pada bajingan? Ditiduri lagi. Mahasiswanya, berusia dua kali lebih muda dari dia, bahkan lebih muda lagi. Dalam hati saya bilang, dia ini memang casanova, tak bisa hidup tanpa memeluk wanita, maunya jatuh cinta melulu setiap melirik 'barang halus'. Tapi bisa jadi memang begitu. Orang bisa jatuh cinta pada siapa saja dengan kualitas 100 % sama namun bentuknya beda-beda. Dalam kasus David, misalnya, dia juga jatuh cinta pada pelacur langganannya, ingin mereka mengekspresikan cinta dengan normal, tapi akhirnya tidak bisa; pelacur itu merasa tidak layak karena punya keluarga, suami, dan anak. Bila Anda percaya pada kualitas David Lurie, dia bisa menerima apa saja keadaan orang lain---apalagi bila menjadi kekasihnya. Lurie adalah tipikal manusia yang sebenarnya sangat egaliter, terbuka, tak mau repot, menempatkan kenikmatan dan kenyamanan hidup sebagai tujuan hidup nomor satunya. Barangkali dia sadar menjalani Epicureanisme. Tapi apa dengan begitu dia jadi tampak istimewa? Bisa jadi tidak.
Setelah itu kami lama tak jumpa. Beberapa waktu setelah tak ada yang istimewa, tiba-tiba terdengar berita mengejutkan, Prof. David Lurie disidang dengan tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan pada mahasiswanya. Tentu saja heboh; kenapa kali ini kenapa dia ceroboh? Berita itu bahkan masuk koran. Ternyata mahasiswa itu punya pacar, dan dia marah sekali tahu kekasihnya kencan dengan dosen, tidak terima, dan berhasil memaksanya melakukan tuntutan. Ditambah lagi saudara dan keluarganya juga marah. Karena tertekan, mahasiswa itu akhirnya keluar kuliah. Runyam. Bukankah mereka jatuh cinta? Sidang itu jadi skandal, dan dia kalah. Dia memang menerima tawaran agar mengaku salah melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan, tapi menolak minta maaf pada universitas, apalagi terhadap peristiwa itu. 'Buat apa?' kata dia bertahan. 'Bukankah kalian minta pernyataan bahwa aku salah melakukan itu? Aku mengakuinya. Tanpa syarat. Tapi buat apa minta maaf? Kami jatuh cinta. Tak ada yang salah dengan itu.'
Begitulah dia dipecat dan jadi cemoohan. Reputasinya di kampus hancur. Tapi setidaknya dia dapat pensiun. Pensiun seorang guru besar. Di satu sisi dia lega; menurutnya sendiri, dia pernah mengaku pada saya, dia tak punya bakat mengajar. (Memang benar, bakatnya adalah bercinta). Dia jadi dosen hanya untuk mata pencaharian, sama sekali tak bisa memotivasi mahasiswa. Sebagai dosen dia sangat biasa, cara mengajarnya tak istimewa, tak bisa memikat agar mereka lebih cinta ilmu dan pengetahuan, apalagi belajar pada kehidupan. Jika mahasiswa tak mendengar kuliahnya, silakan; asal nanti lolos ujian. Saya sepakat dengan komentar tentang dirinya itu. Siapa bisa bersimpati atau perhatian pada lelaki mata ke ranjang dengan moral sangat longgar? Barangkali tidak ada, meski yang dia ucapkan kadang-kadang benar. Andai seseorang berdebat dengan pelacur tentang agama, dan pelacur itu di atas angin melancarkan serangan argumen, bisa mendesak nyaris menang, dengan mudah orang bisa menyergah dengan jurus ampuh, 'Ah, tahu apa pelacur tentang agama!'
Sekarang dia bisa menghabiskan waktu sesuka hati. Sesak karena sidang dan tatapan orang, dia pindah sebentar ke rumah putrinya, di desa pinggiran kota Cape. Di sana dia bertekad menyelesaikan karya tentang Lord Byron, tanpa terduga hasilnya adalah naskah opera kamar. Tapi tanpa pernah terkira, kecelakaan menimpa mereka; tiga orang penjahat kulit hitam merampok rumah putrinya, menghancurkan isinya, memperkosa putrinya, menghajar dia dan membakar tubuhnya, kemudian melarikan mobilnya. Dia meradang keras sekali. Dia terpukul dan hancur oleh peristiwa memalukan ini: bagaimana mungkin seorang sarjana berkulit putih seperti dia bisa diperlakukan begitu hina, dan anaknya hamil oleh sperma manusia kulit hitam dari golongan penjahat dan bromocorah. Betapa dia merasa terhina. Tapi dalam kondisi terpuruk itu sempat-sempatnya dia bilang: risiko kepemilikan adalah kehilangan. Terlalu banyak orang, terlalu sedikit barang. Semua harus dapat bagian. Saya ingat waktu membujuk gadis yang menyebabkannya dipecat, dia merayu seperti itu. - Kecantikamu harus dibagi.- Kalau sudah ada yang menerima bagian itu?- Harus lebih banyak orang yang merasakan bagiannya.
David Lurie hancur dan marah sekali pada peristiwa yang dia alami. Saya sendiri sulit sekali berempati pada dia. Saya yakin orang lain pun akan seperti saya kalau mendengar kisahnya. Saya pernah nonton, seorang pembaca acara bertanya kepada gadis yang diperkosa ramai-ramai oleh temannya, kenapa tidak lapor polisi? Jawab gadis itu, 'Karena kalau lapor saya sendiri yang akan disalahkan. Kenapa kamu bergaul dengan mereka? Kenapa kamu melakukan seks bebas dan memakai narkoba?' Dalam kondisi runyam seperti itu jarang orang bisa bersikap jernih dan tegas, bahwa sesuatu bisa didudukkan terpisah dengan pandangan lurus. Pada kasus David Lurie, lebih sulit lagi saya bersimpati padanya, di tengah kesialan dan kesakitan itu dia masih bisa berzina dan berselingkuh dengan kawan putrinya. Herannya, perempuan itu juga melakukan persetubuhan dengan perasaan berdebar-debar dan penuh pengharapan. Astaga, manusia macam apa profesor ini?
Saya setengah tak percaya memperhatikan penuturannya, pening memandang dia. Saya sesak, sinis, sebal atas perilakunya. Tapi saya kagum dengan integritasnya, pandangan optimistik dan iktikad baiknya terhadap dunia. Meski dalam hati bertanya, 'Apa itu cukup buat dunia?' Tentu saja tidak. Manusia sama sekali tidak cukup hanya dengan jadi baik, jujur, atau optimistik.
Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dia. Dia bilang dengan gembira sudah selesai menulis opera kamar itu, meski tidak tahu apa bisa dipentaskan. Saya tersenyum seakan-akan tahu dunia yang dihadapinya kurang-lebih setimpal dengan hidup yang dihadapinya, yang dipandangnya. Maksud saya, dia tidak jadi cengeng atau merasa berhak menuntut keadilan atas kesukaran yang dialaminya. Kegetiran adalah bagian dari dunia, seperti juga bau busuk, kejahatan, korupsi, kasih sayang, dan semua peristiwa yang bisa terjadi. Semua wajar, semua diizinkan.
Sekadar mengumumkan, yang mengenalkan saya pada Prof. David Lurie itu adalah J.M. Coetzee, penulis Afrika Selatan pengarang Disgrace; dan bisnis saya adalah menyunting terjemahan.[] 5:58 AM 4/11/05 Untuk Kang Tanzil dan Rani, semoga suka.
[HALAMAN GANJIL]

David Lurie
-----------

>> Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR


Saya mengenal lelaki itu karena bisnis. Waktu itu saya di kantor, dan karena tugas, saya yang kadang-kadang harus menemui orang yang berurusan dengan kantor. Tak pernah terbayangkan ternyata lelaki blak-blakan itu adalah seorang profesor sastra Inggris. Awalnya saya tidak terkesan dengan perkenalan itu, bukan karena dia tidak ramah, melainkan lebih karena dia terlampau mengejutkan untuk sebuah pertemuan pertama. Biasanya kita mengawali perkenalan dengan ramah-tamah gaya lama, yang isinya wajar bisa diterima siapa pun; misalnya tentang kabar hari ini, berita sehari-hari, termasuk kejadian politik yang baru terjadi. Seberapa sering kita bisa dengan lega membicarakan yang benar-benar tentang diri sendiri? Tentu saja jarang, sebab diri sendiri kerap mengalami kegelisahan, yang bila dibagi pada orang lain, kita tidak bisa menjamin dia akan bisa menerimanya dengan lega; tentu saja karena ada aba-aba 'belum saatnya', atau 'terlalu awal' untuk sebuah perkenalan.

- Untuk lelaki seumur saya, 52 tahun, cerai, saya pikir saya bisa menyelesai masalah seks cukup baik; itu yang diucapkannya tak lama setelah kami duduk bersama, memperkenalkan diri, berbasa basi sangat singkat. Apa maksud dia bilang seperti itu? Itu ucapan terus terang atau semacam pengakuan? Apa maksud dia menyelesaikan masalah dengan pelacur? Cara menyelesaikan masalah seks cukup baik bagi seorang duda? Terus terang ceritanya membuat selera seks saya juga langsung naik; sebagaimana lelaki pada umumnya saya kadang-kadang memiliki masalah seks. Ternyata benar. Dia tak sungkan bilang punya simpanan, seorang call girl kelas tinggi, berkulit coklat; persetubuhan mereka yang lama dan liat---seperti perkawinan dua ekor ular.
Sebenarnya dia sendiri agak jatuh cinta pada pelacur muda itu, tapi dalam banyak hal dia tahu diri tak bisa menjadi seorang kekasih bagi perempuan itu. Dia tetap seorang pelanggan biasa, tak ada haknya melarang perempuan itu menerima lelaki pelanggan lain. Tapi dengan begitu lelaki itu juga jadi tahu cara memenuhi hasrat seksualnya; kalau tidak mengencani istri-istri koleganya sesama dosen, yang bisa dirayu bila mau, dia tidak segan mencari pelacur lain. Atau pegawai perempuan universitas. Untuk lelaki seperti dia, seorang profesor, berpenghasilan cukup, punya jabatan, dapat beasiswa, hidup sendiri, tak banyak keinginan, sederhana, dia bisa membelanjakan uang untuk membayar perempuan yang disukainya, siapa saja. Hidup yang tentu saja sangat nyaman bagi seorang kasanova, atau womanizer.

Profesor berkulit putih itu bernama David Lurie, dosen kajian puisi, spesialisasi puisi zaman Romantik, mengajar di Universitas Teknik Cape. Dia sedang menekuni studi tentang Lord Byron, yang entah kenapa mirip dengan dia dalam satu sisi: suka perempuan, dan perempuan tampaknya juga mudah sekali jatuh memberikan cinta dan seluruh tubuh pada pelukannya. Barangkali sudah begitu nasib menentukan jalan hidupnya, dan dia sekadar menjalaninya. Sebenarnya saya bosan dengan indikasi seakan-akan sejumlah penyair atau penulis itu banyak yang punya skandal seks. Penyair kan tidak beda dengan pengusaha, misalnya. Pengusaha atau politikus juga banyak yang punya skandal seks, tapi kenapa itu tampaknya kurang istimewa bila dibandingkan skandal seks seniman?

Dua kali menikah, dua kali cerai, punya anak satu, dengan banyak skandal seks dalam hidupnya. Dia tak menyangkal memang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup, melakukan sesuatu yang semata-mata disukainya. Apalagi keinginan seseorang yang hidupnya nyaris tak kekurangan? Keinginan itu adalah menuntaskan kepuasan batin. Untuk itu pun dia tahu cara memenuhinya: dia menulis kritik, sudah tiga buku dia hasilkan. Meskipun dia juga mengakui dengan sederhana bahwa ketiga buku itu 'tidak menimbulkan riak sedikit pun' di dunia kritik sastra. Dia berharap karya tentang Lord Byron itu bisa menimbulkan riak, setidaknya kepuasan untuk dirinya. 'Kepuasan' saya pikir cocok untuk mengidentifikasikan dirinya. Bila belum puas, dia akan terus; bila sudah, dia akan berhenti.

Setelah perkenalan singkat itu saya pikir dia akan mengenalkan salah satu perempuan teman kencannya pada saya, atau menceritakan perselingkuhan lainnya. Yah, itu harapan saya. Tapi ternyata saya kecele. Dia pernah bilang, sebenarnya dia tidak disukai kolega perempuannya, apalagi yang punya kecenderungan 'feminis'. Di jurusannya ada satu-dua dosen perempuan yang terang-terangan ingin menyingkirkan dia, tapi sejauh ini gagal. Saya tidak tahu apa itu disebabkan pengaruhnya di kampus, atau justru karena kesenioran dan kesarjanaannya. Saya pikir karena kesarjanaannya; artinya, menyingkirkan seorang profesor pasti butuh usaha luar biasa, atau kejadian luar biasa; tidak bisa memecat begitu saja seperti pada dosen muda. Seperti dinosaurus, yang begitu luar biasa, sampai hanya bisa musnah oleh kejadian yang juga harus ekstrem.

Saya juga sebenarnya bisa dibilang tidak akrab benar dengan dia. Persahabatan kami memang tambah baik setelah perkenalan itu, tapi itu lebih disebabkan bisnis. Menurut saya sendiri, dia lelaki pendiam dan penyendiri. Karena itu dia sesekali menawari minum bareng, dan saya terima dengan terbuka. Untuk apa saya tolak? Dia simpatik. Saya pikir karena itu dia bisa meniduri perempuan manapun; selain itu dia tampan dan punya segala yang bisa diinginkan perempuan. Dia rela memberi hadiah berharga bahkan pada pelacur favoritnya; mana ada lelaki mata ke ranjang bisa begitu pemurah? Ketampanan memang merupakan pemikat yang tak kenal kendala. Lord Byron juga tampan, dan meskipun kewarasannya diragukan, bajingan, dia bisa meniduri banyak perempuan dan dia sendiri jadi rebutan. David pernah cerita kenapa bisa begitu mudah dekat dengan perempuan. Sejak kecil dia diasuh oleh banyak perempuan di keluarganya; bisa pembantu, bibi, atau istri-istri ayahnya. Barangkali secara alamiah dia punya bakat dekat dengan perempuan, dan perempuan juga nyaman ada didekatnya. Disebabkan ketampanan, sekali dia melirik, OK sajalah. Sebenarnya, bagi dia sendiri, perempuan dan seks itu fungsinya benar-benar untuk melepaskan energi dan protein yang menggumpal dan berlebihan. Saya tak bisa komentar apa-apa tentang itu.

Waktu terakhir kali kami bertemu, dia bilang jatuh cinta pada seorang mahasiwanya. Dari ceritanya, saya mengira gadis itu berkulit hitam.
- Kami bertemu di jalan sepi belakang kampus. Saya menyapanya, tapi ternyata akhirnya dia saya undang minum di rumah. Dia seolah-olah memberi cahaya. Saya jatuh cinta dan tiba-tiba merasa jadi budak Eros. Dan setelah itu, terjadilah.

Dari nadanya dia berkata sungguh-sungguh. Tapi bila sangsi, mana bisa kita percaya pada bajingan? Ditiduri lagi. Mahasiswanya, berusia dua kali lebih muda dari dia, bahkan lebih muda lagi. Dalam hati saya bilang, dia ini memang casanova, tak bisa hidup tanpa memeluk wanita, maunya jatuh cinta melulu setiap melirik 'barang halus'. Tapi bisa jadi memang begitu. Orang bisa jatuh cinta pada siapa saja dengan kualitas 100 % sama namun bentuknya beda-beda. Dalam kasus David, misalnya, dia juga jatuh cinta pada pelacur langganannya, ingin mereka mengekspresikan cinta dengan normal, tapi akhirnya tidak bisa; pelacur itu merasa tidak layak karena punya keluarga, suami, dan anak. Bila Anda percaya pada kualitas David Lurie, dia bisa menerima apa saja keadaan orang lain---apalagi bila menjadi kekasihnya. Lurie adalah tipikal manusia yang sebenarnya sangat egaliter, terbuka, tak mau repot, menempatkan kenikmatan dan kenyamanan hidup sebagai tujuan hidup nomor satunya. Barangkali dia sadar menjalani Epicureanisme. Tapi apa dengan begitu dia jadi tampak istimewa? Bisa jadi tidak.

Setelah itu kami lama tak jumpa. Beberapa waktu setelah tak ada yang istimewa, tiba-tiba terdengar berita mengejutkan, Prof. David Lurie disidang dengan tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan pada mahasiswanya. Tentu saja heboh; kenapa kali ini kenapa dia ceroboh? Berita itu bahkan masuk koran. Ternyata mahasiswa itu punya pacar, dan dia marah sekali tahu kekasihnya kencan dengan dosen, tidak terima, dan berhasil memaksanya melakukan tuntutan. Ditambah lagi saudara dan keluarganya juga marah. Karena tertekan, mahasiswa itu akhirnya keluar kuliah. Runyam. Bukankah mereka jatuh cinta? Sidang itu jadi skandal, dan dia kalah. Dia memang menerima tawaran agar mengaku salah melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan, tapi menolak minta maaf pada universitas, apalagi terhadap peristiwa itu. 'Buat apa?' kata dia bertahan. 'Bukankah kalian minta pernyataan bahwa aku salah melakukan itu? Aku mengakuinya. Tanpa syarat. Tapi buat apa minta maaf? Kami jatuh cinta. Tak ada yang salah dengan itu.'

Begitulah dia dipecat dan jadi cemoohan. Reputasinya di kampus hancur. Tapi setidaknya dia dapat pensiun. Pensiun seorang guru besar. Di satu sisi dia lega; menurutnya sendiri, dia pernah mengaku pada saya, dia tak punya bakat mengajar. (Memang benar, bakatnya adalah bercinta). Dia jadi dosen hanya untuk mata pencaharian, sama sekali tak bisa memotivasi mahasiswa. Sebagai dosen dia sangat biasa, cara mengajarnya tak istimewa, tak bisa memikat agar mereka lebih cinta ilmu dan pengetahuan, apalagi belajar pada kehidupan. Jika mahasiswa tak mendengar kuliahnya, silakan; asal nanti lolos ujian. Saya sepakat dengan komentar tentang dirinya itu. Siapa bisa bersimpati atau perhatian pada lelaki mata ke ranjang dengan moral sangat longgar? Barangkali tidak ada, meski yang dia ucapkan kadang-kadang benar. Andai seseorang berdebat dengan pelacur tentang agama, dan pelacur itu di atas angin melancarkan serangan argumen, bisa mendesak nyaris menang, dengan mudah orang bisa menyergah dengan jurus ampuh, 'Ah, tahu apa pelacur tentang agama!'

Sekarang dia bisa menghabiskan waktu sesuka hati. Sesak karena sidang dan tatapan orang, dia pindah sebentar ke rumah putrinya, di desa pinggiran kota Cape. Di sana dia bertekad menyelesaikan karya tentang Lord Byron, tanpa terduga hasilnya adalah naskah opera kamar. Tapi tanpa pernah terkira, kecelakaan menimpa mereka; tiga orang penjahat kulit hitam merampok rumah putrinya, menghancurkan isinya, memperkosa putrinya, menghajar dia dan membakar tubuhnya, kemudian melarikan mobilnya. Dia meradang keras sekali. Dia terpukul dan hancur oleh peristiwa memalukan ini: bagaimana mungkin seorang sarjana berkulit putih seperti dia bisa diperlakukan begitu hina, dan anaknya hamil oleh sperma manusia kulit hitam dari golongan penjahat dan bromocorah. Betapa dia merasa terhina. Tapi dalam kondisi terpuruk itu sempat-sempatnya dia bilang: risiko kepemilikan adalah kehilangan. Terlalu banyak orang, terlalu sedikit barang. Semua harus dapat bagian. Saya ingat waktu membujuk gadis yang menyebabkannya dipecat, dia merayu seperti itu.
- Kecantikamu harus dibagi.
- Kalau sudah ada yang menerima bagian itu?
- Harus lebih banyak orang yang merasakan bagiannya.

David Lurie hancur dan marah sekali pada peristiwa yang dia alami. Saya sendiri sulit sekali berempati pada dia. Saya yakin orang lain pun akan seperti saya kalau mendengar kisahnya. Saya pernah nonton, seorang pembaca acara bertanya kepada gadis yang diperkosa ramai-ramai oleh temannya, kenapa tidak lapor polisi? Jawab gadis itu, 'Karena kalau lapor saya sendiri yang akan disalahkan. Kenapa kamu bergaul dengan mereka? Kenapa kamu melakukan seks bebas dan memakai narkoba?' Dalam kondisi runyam seperti itu jarang orang bisa bersikap jernih dan tegas, bahwa sesuatu bisa didudukkan terpisah dengan pandangan lurus. Pada kasus David Lurie, lebih sulit lagi saya bersimpati padanya, di tengah kesialan dan kesakitan itu dia masih bisa berzina dan berselingkuh dengan kawan putrinya. Herannya, perempuan itu juga melakukan persetubuhan dengan perasaan berdebar-debar dan penuh pengharapan. Astaga, manusia macam apa profesor ini?

Saya setengah tak percaya memperhatikan penuturannya, pening memandang dia. Saya sesak, sinis, sebal atas perilakunya. Tapi saya kagum dengan integritasnya, pandangan optimistik dan iktikad baiknya terhadap dunia. Meski dalam hati bertanya, 'Apa itu cukup buat dunia?' Tentu saja tidak. Manusia sama sekali tidak cukup hanya dengan jadi baik, jujur, atau optimistik.

Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dia. Dia bilang dengan gembira sudah selesai menulis opera kamar itu, meski tidak tahu apa bisa dipentaskan. Saya tersenyum seakan-akan tahu dunia yang dihadapinya kurang-lebih setimpal dengan hidup yang dihadapinya, yang dipandangnya. Maksud saya, dia tidak jadi cengeng atau merasa berhak menuntut keadilan atas kesukaran yang dialaminya. Kegetiran adalah bagian dari dunia, seperti juga bau busuk, kejahatan, korupsi, kasih sayang, dan semua peristiwa yang bisa terjadi. Semua wajar, semua diizinkan.

Sekadar mengumumkan, yang mengenalkan saya pada Prof. David Lurie itu adalah J.M. Coetzee, penulis Afrika Selatan pengarang Disgrace; dan bisnis saya adalah menyunting terjemahan.[] 5:58 AM 4/11/05 | Untuk Kang Tanzil dan Rani, semoga suka.

Sunday, April 10, 2005

[HALAMAN GANJIL]

David Lurie
-----------

>> Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR


Saya mengenal lelaki itu karena bisnis. Waktu itu saya di kantor, dan karena tugas, saya yang kadang-kadang harus menemui orang yang berurusan dengan kantor. Tak pernah terbayangkan ternyata lelaki blak-blakan itu adalah seorang profesor sastra Inggris. Awalnya saya tidak terkesan dengan perkenalan itu, bukan karena dia tidak ramah, melainkan lebih karena dia terlampau mengejutkan untuk sebuah pertemuan pertama. Biasanya kita mengawali perkenalan dengan ramah-tamah gaya lama, yang isinya wajar bisa diterima siapa pun; misalnya tentang kabar hari ini, berita sehari-hari, termasuk kejadian politik yang baru terjadi. Seberapa sering kita bisa dengan lega membicarakan yang benar-benar tentang diri sendiri? Tentu saja jarang, sebab diri sendiri kerap mengalami kegelisahan, yang bila dibagi pada orang lain, kita tidak bisa menjamin dia akan bisa menerimanya dengan lega; tentu saja karena ada aba-aba 'belum saatnya', atau 'terlalu awal' untuk sebuah perkenalan.

- Untuk lelaki seumur saya, 52 tahun, cerai, saya pikir saya bisa menyelesai masalah seks cukup baik; itu yang diucapkannya tak lama setelah kami duduk bersama, memperkenalkan diri, berbasa basi sangat singkat. Apa maksud dia bilang seperti itu? Itu ucapan terus terang atau semacam pengakuan? Apa maksud dia menyelesaikan masalah dengan pelacur? Cara menyelesaikan masalah seks cukup baik bagi seorang duda? Terus terang ceritanya membuat selera seks saya juga langsung naik; sebagaimana lelaki pada umumnya saya kadang-kadang memiliki masalah seks. Ternyata benar. Dia tak sungkan bilang punya simpanan, seorang call girl kelas tinggi, berkulit coklat; persetubuhan mereka yang lama dan liat---seperti perkawinan dua ekor ular.
Sebenarnya dia sendiri agak jatuh cinta pada pelacur muda itu, tapi dalam banyak hal dia tahu diri tak bisa menjadi seorang kekasih bagi perempuan itu. Dia tetap seorang pelanggan biasa, tak ada haknya melarang perempuan itu menerima lelaki pelanggan lain. Tapi dengan begitu lelaki itu juga jadi tahu cara memenuhi hasrat seksualnya; kalau tidak mengencani istri-istri koleganya sesama dosen, yang bisa dirayu bila mau, dia tidak segan mencari pelacur lain. Atau pegawai perempuan universitas. Untuk lelaki seperti dia, seorang profesor, berpenghasilan cukup, punya jabatan, dapat beasiswa, hidup sendiri, tak banyak keinginan, sederhana, dia bisa membelanjakan uang untuk membayar perempuan yang disukainya, siapa saja. Hidup yang tentu saja sangat nyaman bagi seorang kasanova, atau womanizer.

Profesor berkulit putih itu bernama David Lurie, dosen kajian puisi, spesialisasi puisi zaman Romantik, mengajar di Universitas Teknik Cape. Dia sedang menekuni studi tentang Lord Byron, yang entah kenapa mirip dengan dia dalam satu sisi: suka perempuan, dan perempuan tampaknya juga mudah sekali jatuh memberikan cinta dan seluruh tubuh pada pelukannya. Barangkali sudah begitu nasib menentukan jalan hidupnya, dan dia sekadar menjalaninya. Sebenarnya saya bosan dengan indikasi seakan-akan sejumlah penyair atau penulis itu banyak yang punya skandal seks. Penyair kan tidak beda dengan pengusaha, misalnya. Pengusaha atau politikus juga banyak yang punya skandal seks, tapi kenapa itu tampaknya kurang istimewa bila dibandingkan skandal seks seniman?

Dua kali menikah, dua kali cerai, punya anak satu, dengan banyak skandal seks dalam hidupnya. Dia tak menyangkal memang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup, melakukan sesuatu yang semata-mata disukainya. Apalagi keinginan seseorang yang hidupnya nyaris tak kekurangan? Keinginan itu adalah menuntaskan kepuasan batin. Untuk itu pun dia tahu cara memenuhinya: dia menulis kritik, sudah tiga buku dia hasilkan. Meskipun dia juga mengakui dengan sederhana bahwa ketiga buku itu 'tidak menimbulkan riak sedikit pun' di dunia kritik sastra. Dia berharap karya tentang Lord Byron itu bisa menimbulkan riak, setidaknya kepuasan untuk dirinya. 'Kepuasan' saya pikir cocok untuk mengidentifikasikan dirinya. Bila belum puas, dia akan terus; bila sudah, dia akan berhenti.

Setelah perkenalan singkat itu saya pikir dia akan mengenalkan salah satu perempuan teman kencannya pada saya, atau menceritakan perselingkuhan lainnya. Yah, itu harapan saya. Tapi ternyata saya kecele. Dia pernah bilang, sebenarnya dia tidak disukai kolega perempuannya, apalagi yang punya kecenderungan 'feminis'. Di jurusannya ada satu-dua dosen perempuan yang terang-terangan ingin menyingkirkan dia, tapi sejauh ini gagal. Saya tidak tahu apa itu disebabkan pengaruhnya di kampus, atau justru karena kesenioran dan kesarjanaannya. Saya pikir karena kesarjanaannya; artinya, menyingkirkan seorang profesor pasti butuh usaha luar biasa, atau kejadian luar biasa; tidak bisa memecat begitu saja seperti pada dosen muda. Seperti dinosaurus, yang begitu luar biasa, sampai hanya bisa musnah oleh kejadian yang juga harus ekstrem.

Saya juga sebenarnya bisa dibilang tidak akrab benar dengan dia. Persahabatan kami memang tambah baik setelah perkenalan itu, tapi itu lebih disebabkan bisnis. Menurut saya sendiri, dia lelaki pendiam dan penyendiri. Karena itu dia sesekali menawari minum bareng, dan saya terima dengan terbuka. Untuk apa saya tolak? Dia simpatik. Saya pikir karena itu dia bisa meniduri perempuan manapun; selain itu dia tampan dan punya segala yang bisa diinginkan perempuan. Dia rela memberi hadiah berharga bahkan pada pelacur favoritnya; mana ada lelaki mata ke ranjang bisa begitu pemurah? Ketampanan memang merupakan pemikat yang tak kenal kendala. Lord Byron juga tampan, dan meskipun kewarasannya diragukan, bajingan, dia bisa meniduri banyak perempuan dan dia sendiri jadi rebutan. David pernah cerita kenapa bisa begitu mudah dekat dengan perempuan. Sejak kecil dia diasuh oleh banyak perempuan di keluarganya; bisa pembantu, bibi, atau istri-istri ayahnya. Barangkali secara alamiah dia punya bakat dekat dengan perempuan, dan perempuan juga nyaman ada didekatnya. Disebabkan ketampanan, sekali dia melirik, OK sajalah. Sebenarnya, bagi dia sendiri, perempuan dan seks itu fungsinya benar-benar untuk melepaskan energi dan protein yang menggumpal dan berlebihan. Saya tak bisa komentar apa-apa tentang itu.

Waktu terakhir kali kami bertemu, dia bilang jatuh cinta pada seorang mahasiwanya. Dari ceritanya, saya mengira gadis itu berkulit hitam.
- Kami bertemu di jalan sepi belakang kampus. Saya menyapanya, tapi ternyata akhirnya dia saya undang minum di rumah. Dia seolah-olah memberi cahaya. Saya jatuh cinta dan tiba-tiba merasa jadi budak Eros. Dan setelah itu, terjadilah.

Dari nadanya dia berkata sungguh-sungguh. Tapi bila sangsi, mana bisa kita percaya pada bajingan? Ditiduri lagi. Mahasiswanya, berusia dua kali lebih muda dari dia, bahkan lebih muda lagi. Dalam hati saya bilang, dia ini memang casanova, tak bisa hidup tanpa memeluk wanita, maunya jatuh cinta melulu setiap melirik 'barang halus'. Tapi bisa jadi memang begitu. Orang bisa jatuh cinta pada siapa saja dengan kualitas 100 % sama namun bentuknya beda-beda. Dalam kasus David, misalnya, dia juga jatuh cinta pada pelacur langganannya, ingin mereka mengekspresikan cinta dengan normal, tapi akhirnya tidak bisa; pelacur itu merasa tidak layak karena punya keluarga, suami, dan anak. Bila Anda percaya pada kualitas David Lurie, dia bisa menerima apa saja keadaan orang lain---apalagi bila menjadi kekasihnya. Lurie adalah tipikal manusia yang sebenarnya sangat egaliter, terbuka, tak mau repot, menempatkan kenikmatan dan kenyamanan hidup sebagai tujuan hidup nomor satunya. Barangkali dia sadar menjalani Epicureanisme. Tapi apa dengan begitu dia jadi tampak istimewa? Bisa jadi tidak.

Setelah itu kami lama tak jumpa. Beberapa waktu setelah tak ada yang istimewa, tiba-tiba terdengar berita mengejutkan, Prof. David Lurie disidang dengan tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan pada mahasiswanya. Tentu saja heboh; kenapa kali ini kenapa dia ceroboh? Berita itu bahkan masuk koran. Ternyata mahasiswa itu punya pacar, dan dia marah sekali tahu kekasihnya kencan dengan dosen, tidak terima, dan berhasil memaksanya melakukan tuntutan. Ditambah lagi saudara dan keluarganya juga marah. Karena tertekan, mahasiswa itu akhirnya keluar kuliah. Runyam. Bukankah mereka jatuh cinta? Sidang itu jadi skandal, dan dia kalah. Dia memang menerima tawaran agar mengaku salah melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan, tapi menolak minta maaf pada universitas, apalagi terhadap peristiwa itu. 'Buat apa?' kata dia bertahan. 'Bukankah kalian minta pernyataan bahwa aku salah melakukan itu? Aku mengakuinya. Tanpa syarat. Tapi buat apa minta maaf? Kami jatuh cinta. Tak ada yang salah dengan itu.'

Begitulah dia dipecat dan jadi cemoohan. Reputasinya di kampus hancur. Tapi setidaknya dia dapat pensiun. Pensiun seorang guru besar. Di satu sisi dia lega; menurutnya sendiri, dia pernah mengaku pada saya, dia tak punya bakat mengajar. (Memang benar, bakatnya adalah bercinta). Dia jadi dosen hanya untuk mata pencaharian, sama sekali tak bisa memotivasi mahasiswa. Sebagai dosen dia sangat biasa, cara mengajarnya tak istimewa, tak bisa memikat agar mereka lebih cinta ilmu dan pengetahuan, apalagi belajar pada kehidupan. Jika mahasiswa tak mendengar kuliahnya, silakan; asal nanti lolos ujian. Saya sepakat dengan komentar tentang dirinya itu. Siapa bisa bersimpati atau perhatian pada lelaki mata ke ranjang dengan moral sangat longgar? Barangkali tidak ada, meski yang dia ucapkan kadang-kadang benar. Andai seseorang berdebat dengan pelacur tentang agama, dan pelacur itu di atas angin melancarkan serangan argumen, bisa mendesak nyaris menang, dengan mudah orang bisa menyergah dengan jurus ampuh, 'Ah, tahu apa pelacur tentang agama!'

Sekarang dia bisa menghabiskan waktu sesuka hati. Sesak karena sidang dan tatapan orang, dia pindah sebentar ke rumah putrinya, di desa pinggiran kota Cape. Di sana dia bertekad menyelesaikan karya tentang Lord Byron, tanpa terduga hasilnya adalah naskah opera kamar. Tapi tanpa pernah terkira, kecelakaan menimpa mereka; tiga orang penjahat kulit hitam merampok rumah putrinya, menghancurkan isinya, memperkosa putrinya, menghajar dia dan membakar tubuhnya, kemudian melarikan mobilnya. Dia meradang keras sekali. Dia terpukul dan hancur oleh peristiwa memalukan ini: bagaimana mungkin seorang sarjana berkulit putih seperti dia bisa diperlakukan begitu hina, dan anaknya hamil oleh sperma manusia kulit hitam dari golongan penjahat dan bromocorah. Betapa dia merasa terhina. Tapi dalam kondisi terpuruk itu sempat-sempatnya dia bilang: risiko kepemilikan adalah kehilangan. Terlalu banyak orang, terlalu sedikit barang. Semua harus dapat bagian. Saya ingat waktu membujuk gadis yang menyebabkannya dipecat, dia merayu seperti itu.
- Kecantikamu harus dibagi.
- Kalau sudah ada yang menerima bagian itu?
- Harus lebih banyak orang yang merasakan bagiannya.

David Lurie hancur dan marah sekali pada peristiwa yang dia alami. Saya sendiri sulit sekali berempati pada dia. Saya yakin orang lain pun akan seperti saya kalau mendengar kisahnya. Saya pernah nonton, seorang pembaca acara bertanya kepada gadis yang diperkosa ramai-ramai oleh temannya, kenapa tidak lapor polisi? Jawab gadis itu, 'Karena kalau lapor saya sendiri yang akan disalahkan. Kenapa kamu bergaul dengan mereka? Kenapa kamu melakukan seks bebas dan memakai narkoba?' Dalam kondisi runyam seperti itu jarang orang bisa bersikap jernih dan tegas, bahwa sesuatu bisa didudukkan terpisah dengan pandangan lurus. Pada kasus David Lurie, lebih sulit lagi saya bersimpati padanya, di tengah kesialan dan kesakitan itu dia masih bisa berzina dan berselingkuh dengan kawan putrinya. Herannya, perempuan itu juga melakukan persetubuhan dengan perasaan berdebar-debar dan penuh pengharapan. Astaga, manusia macam apa profesor ini?

Saya setengah tak percaya memperhatikan penuturannya, pening memandang dia. Saya sesak, sinis, sebal atas perilakunya. Tapi saya kagum dengan integritasnya, pandangan optimistik dan iktikad baiknya terhadap dunia. Meski dalam hati bertanya, 'Apa itu cukup buat dunia?' Tentu saja tidak. Manusia sama sekali tidak cukup hanya dengan jadi baik, jujur, atau optimistik.

Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dia. Dia bilang dengan gembira sudah selesai menulis opera kamar itu, meski tidak tahu apa bisa dipentaskan. Saya tersenyum seakan-akan tahu dunia yang dihadapinya kurang-lebih setimpal dengan hidup yang dihadapinya, yang dipandangnya. Maksud saya, dia tidak jadi cengeng atau merasa berhak menuntut keadilan atas kesukaran yang dialaminya. Kegetiran adalah bagian dari dunia, seperti juga bau busuk, kejahatan, korupsi, kasih sayang, dan semua peristiwa yang bisa terjadi. Semua wajar, semua diizinkan.

Sekadar mengumumkan, yang mengenalkan saya pada Prof. David Lurie itu adalah J.M. Coetzee, penulis Afrika Selatan pengarang Disgrace; dan bisnis saya adalah menyunting terjemahan.[] 5:58 AM 4/11/05 | Untuk Kang Tanzil dan Rani, semoga suka.
[HALAMAN GANJIL]

David Lurie
-----------

>> Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR


Saya mengenal lelaki itu karena bisnis. Waktu itu saya di kantor, dan karena tugas, saya yang kadang-kadang harus menemui orang yang berurusan dengan kantor. Tak pernah terbayangkan ternyata lelaki blak-blakan itu adalah seorang profesor sastra Inggris. Awalnya saya tidak terkesan dengan perkenalan itu, bukan karena dia tidak ramah, melainkan lebih karena dia terlampau mengejutkan untuk sebuah pertemuan pertama. Biasanya kita mengawali perkenalan dengan ramah-tamah gaya lama, yang isinya wajar bisa diterima siapa pun; misalnya tentang kabar hari ini, berita sehari-hari, termasuk kejadian politik yang baru terjadi. Seberapa sering kita bisa dengan lega membicarakan yang benar-benar tentang diri sendiri? Tentu saja jarang, sebab diri sendiri kerap mengalami kegelisahan, yang bila dibagi pada orang lain, kita tidak bisa menjamin dia akan bisa menerimanya dengan lega; tentu saja karena ada aba-aba 'belum saatnya', atau 'terlalu awal' untuk sebuah perkenalan.

- Untuk lelaki seumur saya, 52 tahun, cerai, saya pikir saya bisa menyelesai masalah seks cukup baik; itu yang diucapkannya tak lama setelah kami duduk bersama, memperkenalkan diri, berbasa basi sangat singkat. Apa maksud dia bilang seperti itu? Itu ucapan terus terang atau semacam pengakuan? Apa maksud dia menyelesaikan masalah dengan pelacur? Cara menyelesaikan masalah seks cukup baik bagi seorang duda? Terus terang ceritanya membuat selera seks saya juga langsung naik; sebagaimana lelaki pada umumnya saya kadang-kadang memiliki masalah seks. Ternyata benar. Dia tak sungkan bilang punya simpanan, seorang call girl kelas tinggi, berkulit coklat; persetubuhan mereka yang lama dan liat---seperti perkawinan dua ekor ular.
Sebenarnya dia sendiri agak jatuh cinta pada pelacur muda itu, tapi dalam banyak hal dia tahu diri tak bisa menjadi seorang kekasih bagi perempuan itu. Dia tetap seorang pelanggan biasa, tak ada haknya melarang perempuan itu menerima lelaki pelanggan lain. Tapi dengan begitu lelaki itu juga jadi tahu cara memenuhi hasrat seksualnya; kalau tidak mengencani istri-istri koleganya sesama dosen, yang bisa dirayu bila mau, dia tidak segan mencari pelacur lain. Atau pegawai perempuan universitas. Untuk lelaki seperti dia, seorang profesor, berpenghasilan cukup, punya jabatan, dapat beasiswa, hidup sendiri, tak banyak keinginan, sederhana, dia bisa membelanjakan uang untuk membayar perempuan yang disukainya, siapa saja. Hidup yang tentu saja sangat nyaman bagi seorang kasanova, atau womanizer.

Profesor berkulit putih itu bernama David Lurie, dosen kajian puisi, spesialisasi puisi zaman Romantik, mengajar di Universitas Teknik Cape. Dia sedang menekuni studi tentang Lord Byron, yang entah kenapa mirip dengan dia dalam satu sisi: suka perempuan, dan perempuan tampaknya juga mudah sekali jatuh memberikan cinta dan seluruh tubuh pada pelukannya. Barangkali sudah begitu nasib menentukan jalan hidupnya, dan dia sekadar menjalaninya. Sebenarnya saya bosan dengan indikasi seakan-akan sejumlah penyair atau penulis itu banyak yang punya skandal seks. Penyair kan tidak beda dengan pengusaha, misalnya. Pengusaha atau politikus juga banyak yang punya skandal seks, tapi kenapa itu tampaknya kurang istimewa bila dibandingkan skandal seks seniman?

Dua kali menikah, dua kali cerai, punya anak satu, dengan banyak skandal seks dalam hidupnya. Dia tak menyangkal memang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup, melakukan sesuatu yang semata-mata disukainya. Apalagi keinginan seseorang yang hidupnya nyaris tak kekurangan? Keinginan itu adalah menuntaskan kepuasan batin. Untuk itu pun dia tahu cara memenuhinya: dia menulis kritik, sudah tiga buku dia hasilkan. Meskipun dia juga mengakui dengan sederhana bahwa ketiga buku itu 'tidak menimbulkan riak sedikit pun' di dunia kritik sastra. Dia berharap karya tentang Lord Byron itu bisa menimbulkan riak, setidaknya kepuasan untuk dirinya. 'Kepuasan' saya pikir cocok untuk mengidentifikasikan dirinya. Bila belum puas, dia akan terus; bila sudah, dia akan berhenti.

Setelah perkenalan singkat itu saya pikir dia akan mengenalkan salah satu perempuan teman kencannya pada saya, atau menceritakan perselingkuhan lainnya. Yah, itu harapan saya. Tapi ternyata saya kecele. Dia pernah bilang, sebenarnya dia tidak disukai kolega perempuannya, apalagi yang punya kecenderungan 'feminis'. Di jurusannya ada satu-dua dosen perempuan yang terang-terangan ingin menyingkirkan dia, tapi sejauh ini gagal. Saya tidak tahu apa itu disebabkan pengaruhnya di kampus, atau justru karena kesenioran dan kesarjanaannya. Saya pikir karena kesarjanaannya; artinya, menyingkirkan seorang profesor pasti butuh usaha luar biasa, atau kejadian luar biasa; tidak bisa memecat begitu saja seperti pada dosen muda. Seperti dinosaurus, yang begitu luar biasa, sampai hanya bisa musnah oleh kejadian yang juga harus ekstrem.

Saya juga sebenarnya bisa dibilang tidak akrab benar dengan dia. Persahabatan kami memang tambah baik setelah perkenalan itu, tapi itu lebih disebabkan bisnis. Menurut saya sendiri, dia lelaki pendiam dan penyendiri. Karena itu dia sesekali menawari minum bareng, dan saya terima dengan terbuka. Untuk apa saya tolak? Dia simpatik. Saya pikir karena itu dia bisa meniduri perempuan manapun; selain itu dia tampan dan punya segala yang bisa diinginkan perempuan. Dia rela memberi hadiah berharga bahkan pada pelacur favoritnya; mana ada lelaki mata ke ranjang bisa begitu pemurah? Ketampanan memang merupakan pemikat yang tak kenal kendala. Lord Byron juga tampan, dan meskipun kewarasannya diragukan, bajingan, dia bisa meniduri banyak perempuan dan dia sendiri jadi rebutan. David pernah cerita kenapa bisa begitu mudah dekat dengan perempuan. Sejak kecil dia diasuh oleh banyak perempuan di keluarganya; bisa pembantu, bibi, atau istri-istri ayahnya. Barangkali secara alamiah dia punya bakat dekat dengan perempuan, dan perempuan juga nyaman ada didekatnya. Disebabkan ketampanan, sekali dia melirik, OK sajalah. Sebenarnya, bagi dia sendiri, perempuan dan seks itu fungsinya benar-benar untuk melepaskan energi dan protein yang menggumpal dan berlebihan. Saya tak bisa komentar apa-apa tentang itu.

Waktu terakhir kali kami bertemu, dia bilang jatuh cinta pada seorang mahasiwanya. Dari ceritanya, saya mengira gadis itu berkulit hitam.
- Kami bertemu di jalan sepi belakang kampus. Saya menyapanya, tapi ternyata akhirnya dia saya undang minum di rumah. Dia seolah-olah memberi cahaya. Saya jatuh cinta dan tiba-tiba merasa jadi budak Eros. Dan setelah itu, terjadilah.

Dari nadanya dia berkata sungguh-sungguh. Tapi bila sangsi, mana bisa kita percaya pada bajingan? Ditiduri lagi. Mahasiswanya, berusia dua kali lebih muda dari dia, bahkan lebih muda lagi. Dalam hati saya bilang, dia ini memang casanova, tak bisa hidup tanpa memeluk wanita, maunya jatuh cinta melulu setiap melirik 'barang halus'. Tapi bisa jadi memang begitu. Orang bisa jatuh cinta pada siapa saja dengan kualitas 100 % sama namun bentuknya beda-beda. Dalam kasus David, misalnya, dia juga jatuh cinta pada pelacur langganannya, ingin mereka mengekspresikan cinta dengan normal, tapi akhirnya tidak bisa; pelacur itu merasa tidak layak karena punya keluarga, suami, dan anak. Bila Anda percaya pada kualitas David Lurie, dia bisa menerima apa saja keadaan orang lain---apalagi bila menjadi kekasihnya. Lurie adalah tipikal manusia yang sebenarnya sangat egaliter, terbuka, tak mau repot, menempatkan kenikmatan dan kenyamanan hidup sebagai tujuan hidup nomor satunya. Barangkali dia sadar menjalani Epicureanisme. Tapi apa dengan begitu dia jadi tampak istimewa? Bisa jadi tidak.

Setelah itu kami lama tak jumpa. Beberapa waktu setelah tak ada yang istimewa, tiba-tiba terdengar berita mengejutkan, Prof. David Lurie disidang dengan tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan pada mahasiswanya. Tentu saja heboh; kenapa kali ini kenapa dia ceroboh? Berita itu bahkan masuk koran. Ternyata mahasiswa itu punya pacar, dan dia marah sekali tahu kekasihnya kencan dengan dosen, tidak terima, dan berhasil memaksanya melakukan tuntutan. Ditambah lagi saudara dan keluarganya juga marah. Karena tertekan, mahasiswa itu akhirnya keluar kuliah. Runyam. Bukankah mereka jatuh cinta? Sidang itu jadi skandal, dan dia kalah. Dia memang menerima tawaran agar mengaku salah melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan, tapi menolak minta maaf pada universitas, apalagi terhadap peristiwa itu. 'Buat apa?' kata dia bertahan. 'Bukankah kalian minta pernyataan bahwa aku salah melakukan itu? Aku mengakuinya. Tanpa syarat. Tapi buat apa minta maaf? Kami jatuh cinta. Tak ada yang salah dengan itu.'

Begitulah dia dipecat dan jadi cemoohan. Reputasinya di kampus hancur. Tapi setidaknya dia dapat pensiun. Pensiun seorang guru besar. Di satu sisi dia lega; menurutnya sendiri, dia pernah mengaku pada saya, dia tak punya bakat mengajar. (Memang benar, bakatnya adalah bercinta). Dia jadi dosen hanya untuk mata pencaharian, sama sekali tak bisa memotivasi mahasiswa. Sebagai dosen dia sangat biasa, cara mengajarnya tak istimewa, tak bisa memikat agar mereka lebih cinta ilmu dan pengetahuan, apalagi belajar pada kehidupan. Jika mahasiswa tak mendengar kuliahnya, silakan; asal nanti lolos ujian. Saya sepakat dengan komentar tentang dirinya itu. Siapa bisa bersimpati atau perhatian pada lelaki mata ke ranjang dengan moral sangat longgar? Barangkali tidak ada, meski yang dia ucapkan kadang-kadang benar. Andai seseorang berdebat dengan pelacur tentang agama, dan pelacur itu di atas angin melancarkan serangan argumen, bisa mendesak nyaris menang, dengan mudah orang bisa menyergah dengan jurus ampuh, 'Ah, tahu apa pelacur tentang agama!'

Sekarang dia bisa menghabiskan waktu sesuka hati. Sesak karena sidang dan tatapan orang, dia pindah sebentar ke rumah putrinya, di desa pinggiran kota Cape. Di sana dia bertekad menyelesaikan karya tentang Lord Byron, tanpa terduga hasilnya adalah naskah opera kamar. Tapi tanpa pernah terkira, kecelakaan menimpa mereka; tiga orang penjahat kulit hitam merampok rumah putrinya, menghancurkan isinya, memperkosa putrinya, menghajar dia dan membakar tubuhnya, kemudian melarikan mobilnya. Dia meradang keras sekali. Dia terpukul dan hancur oleh peristiwa memalukan ini: bagaimana mungkin seorang sarjana berkulit putih seperti dia bisa diperlakukan begitu hina, dan anaknya hamil oleh sperma manusia kulit hitam dari golongan penjahat dan bromocorah. Betapa dia merasa terhina. Tapi dalam kondisi terpuruk itu sempat-sempatnya dia bilang: risiko kepemilikan adalah kehilangan. Terlalu banyak orang, terlalu sedikit barang. Semua harus dapat bagian. Saya ingat waktu membujuk gadis yang menyebabkannya dipecat, dia merayu seperti itu.
- Kecantikamu harus dibagi.
- Kalau sudah ada yang menerima bagian itu?
- Harus lebih banyak orang yang merasakan bagiannya.

David Lurie hancur dan marah sekali pada peristiwa yang dia alami. Saya sendiri sulit sekali berempati pada dia. Saya yakin orang lain pun akan seperti saya kalau mendengar kisahnya. Saya pernah nonton, seorang pembaca acara bertanya kepada gadis yang diperkosa ramai-ramai oleh temannya, kenapa tidak lapor polisi? Jawab gadis itu, 'Karena kalau lapor saya sendiri yang akan disalahkan. Kenapa kamu bergaul dengan mereka? Kenapa kamu melakukan seks bebas dan memakai narkoba?' Dalam kondisi runyam seperti itu jarang orang bisa bersikap jernih dan tegas, bahwa sesuatu bisa didudukkan terpisah dengan pandangan lurus. Pada kasus David Lurie, lebih sulit lagi saya bersimpati padanya, di tengah kesialan dan kesakitan itu dia masih bisa berzina dan berselingkuh dengan kawan putrinya. Herannya, perempuan itu juga melakukan persetubuhan dengan perasaan berdebar-debar dan penuh pengharapan. Astaga, manusia macam apa profesor ini?

Saya setengah tak percaya memperhatikan penuturannya, pening memandang dia. Saya sesak, sinis, sebal atas perilakunya. Tapi saya kagum dengan integritasnya, pandangan optimistik dan iktikad baiknya terhadap dunia. Meski dalam hati bertanya, 'Apa itu cukup buat dunia?' Tentu saja tidak. Manusia sama sekali tidak cukup hanya dengan jadi baik, jujur, atau optimistik.

Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dia. Dia bilang dengan gembira sudah selesai menulis opera kamar itu, meski tidak tahu apa bisa dipentaskan. Saya tersenyum seakan-akan tahu dunia yang dihadapinya kurang-lebih setimpal dengan hidup yang dihadapinya, yang dipandangnya. Maksud saya, dia tidak jadi cengeng atau merasa berhak menuntut keadilan atas kesukaran yang dialaminya. Kegetiran adalah bagian dari dunia, seperti juga bau busuk, kejahatan, korupsi, kasih sayang, dan semua peristiwa yang bisa terjadi. Semua wajar, semua diizinkan.

Sekadar mengumumkan, yang mengenalkan saya pada Prof. David Lurie itu adalah J.M. Coetzee, penulis Afrika Selatan pengarang Disgrace; dan bisnis saya adalah menyunting terjemahan.[] 5:58 AM 4/11/05 | Untuk Kang Tanzil dan Rani, semoga suka.

Wednesday, January 29, 2003

The Longest Curhat
==============

Otomatis hanya pada malam Sabtu (17/01/02) rumah kami tidak didatangi kawan-kawan dekat. Tapi bahkan sehari sebelum aku datang, Ana dan Rina datang ke sana untuk main bareng Ubing dan lalang ke kebon binatang. Itu artinya rumah kami tampakya selalu kedatangan orang lain--padahal rumah itu begitu kecil. Setelah itu, di malam minggu 5 anak SKAU kini datang, ngobrol macam-macam sampai sekitar jam 01.00. Roni, Salim, Arif, Indra, Sya'ban, ditambah Anton, ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja yang terlintas dan jadi bahan omongan menarik. Mereka baru pulang setelah udunan makan nasi goreng.

Besoknya Al dan Ani datang, sampai sore. Malamnya Anto dan ANton datang untuk makan malam dengan sambel dan sambel kacang. Ini malam pertama Anto datang setelah lama nggak ketemu dengan aku. Dia masih begitu-begitu saja, tapi obrolannya tentang gaya hidup religius (dalam konotasi netral dan tidak sinis) menarik untuk diperhatikan. Setelah itu aku ngobrol banyak hal sama Anton, sampai jam 02.00-an. Belum cukup dengan itu aku ngobrol dengan Ubing sampai lama--dan diakhiri percintaan yang sangat menggairahkan. Di hari Senin, ketika aku jadi nggak bisa buru-buru ke P karena rencana bikin buletin Mizan jadi berlarut-larut dan menghabiskan banyak obrolan dengan Diah, di Mata. Al dan Ani datang lagi, dengan harapan akan ketemu Wawan dan Kini, kawanku dari perkenalan lewat Internet. Mereka kerja untuk Tiga Serangkai, dan menurutku mereka tampaknya berharap banyak bisa berhasil secara karir di sana. Wawan sendiri baru datang setelah isya, setelah kami beli buah-buahan di DT. Kami ngobrol banyak dengan mereka, minimal pertemanan kami makin akrab, dan membuat ikatan yang ada di antara kami jadi makin erat.

Sejak itu pula Lalang jadi selalu tidur di atas jam 8. Bahkan sampai jam 11. Padahal biasanya dia sudah tidur sejak jam 8 atau sehabis isya. Tapi aku jadi sangat takjub dengan perkembangan yang dia miliki. Kemampuannya bernalar saat berbicara betul-betul di luar jangkauanku untuk memahami kenapa itu bisa terjadi. Tentu itu berkat Ubing, yang rela dan tak bisa tidak harus terus memberi dia pelajaran dan pelatihan agar kemampuannya meningkat drastis. Coba, begitu selesai menyeruput es campur yang kami beli dan kami minum bersama-sama, dari mangkok, dia berkata penuh khidmat, "Sempurna!" Kami langsung terbahak-bahak atas kemampuannya mengutarakan rasa yang dia alamani itu. Atau karena dia nggak mau aku ganggu saat sedang makan, dia dengan sungguh-sungguh bilang, "Ayah jangan tanya-tanya aja. Ayah bantuin ibu masak aja di dapur..." Sambil menghindarkan makanannya dari jangkauanku. Kemampuannya mengingat lagu-lagu dan teks/kalimat yang panjang sudah semakin bagus. Dengan pengucapan yang masih cadel, dan ingatan yang belum sempurna, dia bisa mengulang ini, "Kupu-kupu kubis adalah kupu-kupu yang umum. Mereka memakan kubis dan tanaman sayur-sayuran. Kalau jumlahnya sangat besar bisa menyebabkkan kerusakan." Aku pikir itu adalah buah dari rasa ingin tahunya yang besar, selalu bertanya-tanya, dan selalu minta dengan semangat untuk dibacakan sesuatu. Dia selalu bilang, "Ayah bacain yang ini." Atau "Bacain yang itu." untuk setiap gambar yang dia ketahui.

Sayang Ayok dan Rezha nggak datang. Ayok sedang masih sakit dan sibuk, sedangkan Rezha ke Bekasi, mengunjungi ibunya. Maksudku, seandainya mereka datang, keributan di rumah kami itu jadi sempurna. Aku kehilangan berita bola sama sekali, tapi nggak ada penyesalan dari kejadian itu--aku pikir masih bisa diikuti lewat Net atau koran kalau aku tiba di J. Benar saja, MU masih menang; tapi Arsenal juga menang besar dengan Henry melakukan hat-trick. Aku masih mendukung MU, dan selalu "mules" kalau Arsenal menang.

Banyak hasil ngobrol dengan Anton atau Al yang sebenarnya bisa dijadikan bahan tulisan. Aku tampaknya sadar bahwa kemampuan menulis itu cukup diakui di beberapa kalangan. Mula Harahap, barangkali sekretaris Ikapi Jakarta, sampai nanyain aku ke Mas Kris dan Mas Taufik. Dia minta aku nulis untuk Berita Buku Ikapi. Aku merasa bersyukur untuk itu. Mas Kris sudah berkali-kali meminta aku untuk menulis untuk Ekuator, bahkan menyediakan ruang khusus. Aku jadi menyesal dengan segala kesia-siaan yang aku lakukan, yang selalu saja masih mampu menghalangi aku menulis banyak dengan dengan sungguh-sungguh. Aku tahu sekarang, bahkan barangkali dalam prasangkaku, ketika ada seseorang mampu menulis banyak-banyak, apalagi topiknya macam-macam, maka dia jadi terhalang untuk melakukan banyak hal yang sia-sia. Aku bisa berani bilang, bahwa kebiasaan buruk yang aku lakukan memberi andil besar kenapa aku nggak bisa menulis banyak hal dan dan teratur. Beberapa bahan tulisan masih/sudah tertera di kepalaku; sebagian sudah aku tulis topiknya di notepad. Padahal aku juga masih harus menerjemahkan untuk Taufik Rahzen. Aku tampaknya memang sedang sibuk sekarang.

P. masih belum tertangani dengan baik. KotaKita belum berhasil aku terbitkan; tapi aku juga janji akan menyelesaikannya sesegera mungkin. Tapi kami sedang disibukkan oleh laporan dan persiapan-persiapan di masa depan. Bahkan ada program yang harus kami selesaikan pada saat bersamaan di Februari nanti, padahal di saat yang sama aku harus menyelesaikan buletin Mizan. Bulan-bulan ke depan aku perkirakan pekerjaan makin banyak, setelah kami juga menyelesaikan program ke-2 di akhir Maret nanti. Aku sendiri ragu apakah akan tetap bertahan di sini atau tidak; sedangkan aku juga tidak keberatan seandainya dievaluasi dan diputus-hubungan-kerjakan. Aku sendiri tampaknya tidak berprestasi. Aku teringat email dari Adhe yang bernada ancaman terhadap karirku di sini. Sebenarnya aku sendiri ingin tertawa dengan email semacam itu; tapi sudahlah, bahwa aku kurang berprestasi di sini, itu suatu kenyataan. Aku diingatkan Ubing biar aku menyelesaikan kerjaan di sini sebaik mungkin, apalagi kondisi keuangan program ke-3 ini tampaknya mengecil drastik. Jangan sampai ada kesan aku keluar justru di saat mereka tengah kesusahan, sementara aku dulu masuk pada saat mereka gilang-gemilang. Aku ingin terlihat solider dan loyal. Jadi sebaiknya aku memang perlu bertahan selama diinginkan teman-teman. Aku bilang ke Ubing atau Anton sebenarnya yang bisa aku lakukan itu banyak sekali--ada banyak kesempatan, tapi hanya sedikit yang benar-benar aku jadikan tambang uang. Kalau mau aku ngerjain Buletin Mizan (Jkt), atau ngejar Mula Harahap, atau ngejar bikin kolom untuk Ekuator... bisa-bisa seabrek-abrek. Hanya saja manajemen waktu dan kemalasan saja yang menghalangi kegiatanku. Dengan segala kasih sayang Allah, insya Allah aku ini memiliki banyak ladang yang bisa digarap. Tapi kadang-kadang aku menyia-nyiakan kebun sendiri. Ubing sudah minta agar aku berbaik sangka sama teman-teman dan berdamai dengan ketidakenakan yang aku alami--toh aku juga tidak sempurna. Aku pikir itu jalan yang bagus.

Sejauh ini hidupku cukup baik. Hubunganku dengan Al juga positif, meskipun tampaknya secara oral masih "gagap"--untung Ubing bisa mengisi kekakuan. Kalau dari sisi tulisan, lancar sama sekali. Kami tampaknya memang baik sama sekali. Hanya saja perlu waktu untuk menghilangkan kesan gugup. Aku tahu tampaknya tidak begitu saja aku akan "masuk" (dalam konotasi apa pun) dalam lingkaran Paramartha. Tapi apa gunanya kalau terlibat sedangkan aku nggak melewatinya dengan tertib?

Dengan ini, aku bersyukur pada Tuhan, dan meminta maaf pada segala kelakuan yang membuat luka.

Puji Tuhan!
9:35 AM 1/21/03 - 7:13 PM 1/21/03
[HALAMAN GANJIL]

So Vicious Critics
=============

Bersikap kritis kadang-kadang justru membuat seseorang jadi nyinyir; sebab kadang-kadang memaksa dia harus mengetahui banyak rinci, bahkan untuk sesuatu yang bisa jadi tak ada hubungannya.

Sudah jamak sekali bila ada pencipta marah besar terhadap kritik. Kejadiannya bisa dalam khazanah seni rupa, sastra, film, dan sebagainya. Pertarungan pencipta dan kritik bagi saya mirip tinju bayangan, yakni saya lebih suka menganggap itu sebagai upaya melatih kecermatan dan ketangkasan membaca karya dan maknanya. Karena kadang-kadang saya tidak paham membaca kritik dan mengerti sepenuhnya suatu karya, biarlah itu hadir sebagai semacam upaya komplementer, saling mengisi, saling memperkuat--meskipun kenyataannya bisa jadi gontok-gontokan.

Menurut saya yang pengetahuannya 0 (nol), kritik sekasar apa pun pada dasarnya sah. Apalagi jika kritik itu memiliki kaidah logika, ditunjang argumentasi bagus, dan bahasa yang baik. Seburuk-buruknya suatu kritik, sejauh itu memenuhi kriteria isi-kualitas dan pertanggungjawaban, cukuplah. Artinya, bagi saya siapa pun punya hak mengkritik dan angkat bicara, asalkan dia tahu risikonya. Dengan demikian kritik harus bagus dari segi isi maupun argumentasi. Polemik pada dasarnya diperlukan terus menerus oleh publik--baik yang pro dan kontra--agar orang tidak kehilangan kritisisme dan konteks. Yang perlu dijaga tentu semangat dan etika.

Saya teringat pada penilaian majalah Time terhadap film "Dancer in the Dark" sebagai "the worst film" tahun 2000. Padahal Dancer in the Dark itu memenangkan Palm D'Or di Festival Film Cannes dan menobatkan Bjork sebagai pemain terbaik. Kata Time, film itu nggak ada logikanya, nggak ada seni penciptaannya. Itu artinya pada titik ekstrem orang memang bisa sangat berbeda mengambil sikap: memuji atau mengecam. Yang jadi persoalan adalah tentu saja cara menilai (kriteria?) yang digunakan kedua belah pihak hingga akhirnya mengakibatkan sikap yang diambil ternyata bisa demikian berbeda. Kenapa sesuatu bisa dinilai baik oleh pihak tertentu, sedangkan penilaian lain justru bertolak belakang sama sekali?

Contoh lain: Nude Descending a Staircase no. 2 karya Marcel Duchamp ditolak dan tidak layak untuk disertakan pada pameran seni kubis pada 1912. Sebaliknya karya itu berubah jadi adikarya dan bintang pada pameran Armory Show pada 1913, dan merupakan salah satu karya rupa yang saat kini diakui masih terbaik. Ini memberi peluang bahwa sebuah karya yang dianggap sangat buruk dengan penilaian tertentu ternyata masih punya kesempatan menjadi yang terbaik.

Dalam diri Duchamp sendiri terlihat dualisme sikap tidak peduli atas kritik apakah karyanya itu dianggap baik atau buruk. Dia tidak ambil pusing ketika orang heboh atas ciptaannya. Demikian acuhnya hingga dia pernah meninggalkan dunia seni 20 tahun lamanya. Tapi gilanya, orang tetap menanti-nanti sepak terjangnya dan menunggu dia turun gunung. Menghilang selama 20 tahun tanpa berkarya satu pun: apakah dengan itu reputasinya hancur? Tidak sama sekali.

Sebuah contoh aktual saya kemukakan: bagi banyak orang (termasuk saya) Napster adalah penemuan luar biasa yang bisa membahagiakan dan harus didukung sebisa mungkin. Orang menobatkannya sebagai salah satu penemuan teknologi paling bagus yang pernah ada. Tapi kalangan industri (terutama perusahaan rekaman besar) menuduh itu sebagai alat pembajakan, dan karenanya menghadang teknologinya mati-matian. Mereka bahkan memperkarakan persoalan itu, dan akhirnya menang. Akibatnya nasib Napster malah tidak lebih baik dari narapidana: dituduh sebagai biang merosotnya penjualan cd dan kaset dunia. Penisbatan baik atau buruk ternyata sangat jelas didasari oleh suatu kepentingan: apakah mereka diuntungkan atau dirugikan.

>>Karya: Apakah Selalu Bermutu?

Karya seni, ciptaan dan capain manusia, selalu menyisakan polemik yang tidak mudah selesai. Ada banyak pecipta yang tidak peduli kritik, sekasar atau sebagus apa pun pendapat itu. Bagi mereka kritik hanya omong-omong menanggapi ciptaan, jadi di luar eksistensi diri mereka, jadi dapat diabaikan. Mereka bilang akan terus mencipta sekalipun tiada kritik. Pendeknya, eksistensi mereka tidak akan berakhir atau disebabkan oleh kritik. Mereka mencipta karena mereka memang berdaya cipta, ingin mengungkapkan sesuatu.

Sebagian lagi ada pencipta yang peduli/memperhatikan kritik. Bagi seniman model ini kritik adalah cermin dan media bertanya: seberapa jauh karyanya diterima massa, seberapa penting itu dibandingkan yang lainnya? Meski bagaimana pun, pencipta adalah seseorang yang hidup di tengah khalayak, dan mereka membutuhkan banyak interaksi untuk mendewasakan diri dan karyanya. Bisa jadi mereka merah padam atas kritik yang mengecam dan tersenyum-senyum senang atas komentar yang memuji. Meskipun bukan hal paling utama, kritik bukan sesuatu yang harus dihindari; apalagi kalau ditautkan dengan nilai publisitas.

Menarik juga mempertanyakan apakah kritik yang mengecam akan meruntuhkan reputasi atau karakter seseorang, terutama penciptanya?

Mari kita cek. Di awal kemunculannya, pencipta sering dinilai/disebut memiliki ciri khas tertentu yang dikaitkan dengan generasi terdahulu atau yang lebih kuat ciri khasnya. Pada saat itu pencipta-muda biasanya menerima kritik dengan biasa saja. Bahkan mungkin bangga bila diasosiasikan dengan artis bereputasi hebat dan agung. Ketika pencipta itu tumbuh dewasa, biasanya mereka mampu keluar dari bayang-bayang idola atau artis yang dianggap kritik sebagai "patron." Misalnya, Sherrie Levine, yang terang-terangan mencontek pola, warna, bentuk, gaya seniman ulung terdahulu, akhirnya memilih "takdirnya" sendiri, yang berbeda dengan jalan yang sebelumnya dia tempuh. Memang, Sherrie Levine tidak asal mencontek. Mencontek pun dia penuh orisinalitas, meskipun bercampur dengan karya yang diconteknya. Satu hal positif adalah ternyata pertumbuhan pencipta biasanya dibarengi oleh makin kuatnya karya mereka, makin berani menggunakan cara sendiri, dan mampu mengungkapkan gagasan dan metode berkarya dalam bahasanya sendiri.

Setelah pencipta benar-benar dewasa dan memiliki citra tertentu, mereka baru sering tampak waspada dengan kritik yang muncul atas karyanya. Sebagian karena ingin menjaga citra. Alasan ini tentu bisa diterima, mengingat "harga diri" mereka memang berada di balik semua ciptaannya itu. Mereka ingin segala yang mereka ciptakan tidak bercacat, apalagi yang sudah dimiliki seseorang/institusi (apakah itu diterbitkan, dibeli, disewa, dihadiahkan, ditandatangani, dan dikoleksi). Untungya pencipta bereputasi hebat dan ulung memang benar-benar dibekali daya cipta menggelegak, dan mampu membuat karyanya nyaris selalu sempurna. Tetapi apakah memang bisa dijamin semua ciptaan akan selalu hebat dan sempurna? Karena itu kritik pedas terhadap karya ditabukan dan lantas melambangkan "premanisme"?

Perhatikan saja: karya Picasso itu jumlahnya ribuan. Ada yang lukisan, pensil, sketsa, patung, karya belum jadi, karya percobaan, karya "latihan", karya dalam proses, dan lain-lainnya. Gerhard Richter bahkan lebih gila lagi kalau berkarya. Sering hanya dalam satu pameran dia menyertakan ratusan karya, bahkan ribuan. Semuanya sudah dia cap "jadi." Bayangkan. Tidak mungkinkah salah satu karyanya itu bisa dikritik dengan pedas dan dinilai ada yang "gagal"? Henri Matisse punya beragam ribuan karya dengan jangkauan sangat luas. Andy Warhol juga punya karya seabrek-abrek.

Van Gogh dan Francis Bacon yang dianggap "sedikit berkarya" ternyata kerap dianggap masih memiliki banyak karya belum diketahui yang bisa dinisbatkan sebagai ciptaannya. Kejadian seperti ini tentu sangat bisa terjadi pula di Indonesia. Dalam kehidupannya harus diakui pencipta Indonesia tentu tidak hanya "memiliki" karya yang pernah diterbitkan, dipamerkan, atau dimiliki seseorang. Segala yang lahir dari keringat dan daya cipta mereka adalah sah juga sebagai karyanya. Dalam ranah seni rupa contohnya adalah Pintor Sirait, yang mencipta sangat banyak bahkan untuk keperluan komersial, dengan bangga tetap dia sebut sebagai karyanya, bernilai sama tinggi dibandingkan "seninya."

>>Mengkritik Karya-gagal: Bagaimana Caranya

Saya agak yakin salah satu ciptaan seseorang tentu ada yang buruk, gagal, bahkan mungkin tidak ada nilainya. Lebih adil lagi: ada karya lain yang lebih bagus dan bernilai daripada ciptaan gagal seorang seniman (meskipun) dengan reputasi hebat. Dengan begitu karya yang lebih baguslah yang sewajarnya diapresiasi lebih tinggi. Jika anggapan ini bisa dibenarkan, kritik pedas terhadap karya-gagal bisa dibenarkan, apalagi disertai argumentasi bernalar. Coba, di antara sekian ribu karya Picasso itu, pastilah ada yang sebenarnya bermutu lebih rendah dibandingkan karya pencipta kita. Benar? Tapi membuang karya-gagal itu ke tempat sampah tentu mustahil dilakukan, sebab apa pun yang bertaut dengan nama Picasso pastilah punya nilai. Apa pun namanya: nilai sejarah, proses, ekonomi, gengsi. Apalagi jika sudah dihubungkan dengan citra, kepemilikan, dan lain-lain.

Untungnya bahkan seniman sebesar Francis Bacon pun pernah mengalami masa "buruk mutu" yang membuatnya beranggapan karya itu layak dilenyapkan, termasuk oleh dirinya sendiri. Bila begitu kondisinya, wajarkah karya yang dianggap buruk oleh penciptanya sendiri justru dikoleksi oleh seseorang atau institusi? Saya ingat pernyataan seorang kurator seni rupa yang menyarankan agar perupa selalu menyumbangkan/memberikan/menukarkan karya terbaiknya kepada penyelenggaran atau galeri jika dalam pameran yang diadakannya tidak terjadi transaksi. Alasannya sederhana: agar yang dinikmati publik itu merupakan sisi terbaik yang dimilikinya. Saya setuju karya-gagal (dikritik dari berbagai aspek) hanya pantas dipajang/dinilai sebagai catatan sejarah atau tonggak perjalanan, bukan diamin-amini agar tampak bagus dan bernilai.

Dalam keadaan seperti itu kritik menjadi persoalan yang sangat berat, karena salah sedikit menimbang bisa-bisa rusak semua karya seorang pencipta. Sebab kritik harus diakui punya daya bujuk atau pembentukan opini cukup kuat. Tetapi pada dasarnya kritik tetap diperlukan, minimal untuk menjaga ketegangan hubungan antara pendapat baik dan buruk. Agar orang tetap mampu jernih, awas, dan bernalar terhadap karya cipta, akhirnya menempatkan karya itu dalam bingkai yang jujur dan apa adanya.[]wartax@yahoo.com

Tuesday, January 28, 2003

[HALAMAN GANJIL]

Rumah, Buku, dan Tempat Tinggal
=========================

"Home is where the heart is"
- Pliny the Elder

"Sakit rasanya kalau saya ingat sama buku-buku koleksi saya," lelaki berperawakan tinggi-besar itu berkata sungguh-sungguh. Kami baru kali itu bertemu, tapi minat yang sama membuat kami langsung akrab, mampu membicarakan apa saja. "Buku saya tercecer-cecer di beberapa tempat. Masih tertinggal kantor lama, kantor baru, di rumah, di sini--di kantor organisasi." Dia sedikit berhela. "Itulah, saya belum punya rumah. Masih selalu pindah-pindah kontrakan. Ingin rasanya saya punya rumah sendiri... Tapi macam mana orang seperti saya bisa punya uang cukup untuk membangun satu saja?"

Waktu itu saya ingin memfoto kopi buku-buku di yang sudah pasti sukar didapatkan, bahkan di toko buku eksklusif semacam QB Book Store atau Aksara sekalipun--saya yakin. Dari ceritanya, dia memiliki banyak buku yang tentu saja membuat saya bergairah untuk membacanya. Bukan hanya hanya memiliki, dia bahkan mampu mengingat paragraf-paragraf kalimatnya secara penuh, dalam bahasa Inggris. Apakah keinginan itu akan terpenuhi? "Nantilah, harus saya cari dulu. Ingatkan saya saja," janjinya. Buku itu merupakan semacam tonggak-tonggak penanda kehidupannya, yang dia dapatkan sepanjang hayatnya, dari berbagai tempat dan peristiwa.

Jadi, apakah persoalannya adalah rumah, atau sebuah tempat untuk menyimpan buku-buku itu? Sedikit-banyak ya. Begitu berpisah, saya langsung teringat rumah kecil tempat kami tinggal di kota B. Saking kecilnya, kami harus berbagi tembok dan halaman dengan tetangga. Sebuah rumah di dalam gang, yang jika di dalamnya ada lima orang saja, langsung terasa sesak ruangnya. Rumah yang sebenarnya kekurangan ruang untuk memasak, juga tempat nyaman untuk membaca dan menikmati film. Tapi, apa pun yang pernah terjadi di sana, setidaknya saya nyaman untuk beberapa hal. Rumah yang meskipun kecil tetapi telah memberi kami banyak hal, termasuk kasih sayang.

Misalnya untuk menyimpan buku-buku itu. Minimal kami memiliki tempat yang pasti untuk meletakkan semua bacaan, sehingga tidak tercecer di mana-mana. Memang saya masih menyimpan beberapa buku di kantor, tapi itu lebih sebagai bahan rujukan dan bacaan, atau karena selesai dibaca--dan akhirnya pasti akan kembali ke rumah, berjejer di rak-rak yang ada di rumah kami. Kami tak menyisakan kemungkinan lain bahwa ada buku kami yang tertinggal di suatu tempat, selain yang memang dipinjam kawan. Di rumah itu, buku telah menjadi pengisi ruang yang paling dominan--itu artinya mereka adalah salah satu harta kami yang paling berharga, yang kami harap suatu ketika akan dilahap juga oleh anak kami, menjadi warisan bagi dia.

Jika kebetulan kawan-kawan datang ke rumah itu, saya langsung merasakan betapa tempat sekecil ini justru tak memberi ruang untuk saling menjauh, akibatnya kami jadi mudah akrab, atau langsung mengerti bahasa tubuhnya, sehingga bisa membalasnya/memahaminya dengan tepat. Teringat lagi tentang sesal sahabat baru saya itu, kini saya makin sadar makna tempat itu, terlebih ketika hanya bertiga dengan istri dan anak. Barangkali rumah itu memang awalnya sekadar tempat berteduh, istana seseorang menciptakan kedamaian dan mendapatkan kasih. Itu adalah tempat seseorang memupuk pengertian dan kedewasaan, ruang yang sehat bagi tumbuhnya keturunan. Namun di tempat yang sama kita bisa melakukan banyak hal: pertengkaran, membual, berbohong, selain--tentu saja--bercinta, berangan-angan, berjanji, atau memelihara cinta. Seorang kenalan saya berjanji menjadikan rumahnya sebagai tempat bermain, berekspresi, dan tumbuh anak-anak beserta kawan sebayanya. Agar mereka bisa mengenal dunia lebih berarti.

Di tempat itu pula kebanyakan barang yang belum termanfaatkan sepenuhnya tersimpan, tapi tetap dipelihara dan tidak dihancurkan oleh penghuninya. Ada sejumlah orang yang memiliki begitu banyak buku, saking banyaknya, hingga itu tidak lagi menjadi hiasan, melainkan jadi lautan, jadi buih, yang tak menyisakan lagi ruang di dalamnya. Barangkali pada saat itulah orang itu layak disebut bibliomania.

Apakah tinggal di sebuah tempat di dalam rumah selalu lebih baik? Apa itu bukan berarti tanda bahwa seseorang mulai stagnan-mapan, seolah-olah tidak mau beradaptasi dengan tempat atau tantangan baru? Bagi saya saja, pikiran terhadap kepindahan menjadi sesuatu yang sangat memberatkan, meskipun suatu ketika barangkali saya tak mampu menghindarinya. Berlawanan dengan itu, hingga kini ternyata masih ada keluarga nomaden, kaum gypsy, mereka yang mudah pindah ke mana saja, meskipun alasannya sekadar mencari penghasilan. Bagaimana dengan semua itu? Seolah-olah bagi mereka semua ruang itu sekadar tempat berpelesir, melancong ke sana ke mari.

Di sisi lain, kepindahan juga bukan sesuatu yang mudah sebenarnya, bahkan bagi mereka yang hanya memiliki sedikit barang. Kawan saya selalu harus kehilangan barangnya setiap kali pindah rumah. Terakhir kali dia kehilangan hp, perabot dapur, beberapa potong baju, termasuk buku. Memang kita bisa berkilah itu terjadi karena mereka tak menyimpannya dengan baik, tapi seandainya itu terjadi di dalam rumah, masih ada kesempatan buat kita menemukannya kembali. Seperti kita bisa menemukan kembali foto lama dan kemudian mengambilnya hati-hati, menjadi barang berharga. Sewaktu baru pindah ke rumah ini, memisahkan dari keluarga, istri saya merasa kehilangan alat-alat masaknya. Tapi tampaknya yang paling berat adalah kehilangan kenangan manis di tempat lamanya, tempat kita tumbuh dalam keramah-tamahan lingkungan. Hanya di dalam rumah kita menyimpan apa saja dengan merdeka, tanpa bisa diganggu orang lain. Anda bisa bayangkan jika ternyata barang paling berharga kita terbengkalai di tempat lain, ternyata tak mudah mengklaimnya kembali, karena tempatnya sudah bukan hak kita lagi.

Ah, saya tentu tetap berharap bahwa kawan saya itu menemukan buku itu di salah satu "rumahnya", di mana pun dia meletakkannya. Atau lebih jauh, mendoakannya punya rumah? Ah, andai saya bisa.[]

Thursday, November 14, 2002

[HALAMAN GANJIL]

Berhenti Sinis Terhadap Ramadhan
(Memahami Shaum Sebagai Gerakan Massa)
======================================

"Karena dengan berpuasa, Nabi Muhammad Saw. berharap amal kita dibawa kehadapan-Nya dalam keadaan yang terbaik."
- Imam suhadi

Sudah hampir seminggu hari ini sebagian besar kaum Islam melakukan ibadah shaum, termasuk saya sendiri. Bagi saya pribadi puasa kali ini nuansanya sedikit lain, karena saya sudah hampir kehabisan sinisme setiap kali Ramadhan tiba. Sinisme itu sekitar dua tahun lalu memuncak, hingga di sebuah diskusi, saya menjuluki Ramadhan justru sebagai "Month of the Rise of the Munafik." Bagi saya sendiri, fenomena shaum di mana-mana sama, apalagi di tv. Sedikit berbeda adalah perbincangan tentang konteks sosial shaum di media massa, yang begitu bersemangat mengaitkannya dengan kondisi teror dan ketakutan yang dialami bangsa Indonesia--sebuah bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di Dunia. Saat Ramadhan, karena oleh Muslim diharamkan adanya perang, tentu sangat dekat berhubungan dengan pesan perdamaian universal, selain merupakan suatu tanda ritus sebuah agama kepada Tuhannya, demi menjalankan salah satu sendi imannya.

Saya memang masih mendapati sejumlah orang yang di hari-hari selain Ramadhan begitu permisif terhadap aurat, dosa, atau perzinaan berdandan rapi-rapi di tempat umum. Tapi dari seorang teman saya dibilangin, bahwa siapa tahu itu adalah tanda bahwa mereka sebenarnya belum kehabisan religiositas, sehingga di saat yang tepat mereka tunduk pada perintah Allah. Saya kini tidak lagi sinis pada kontradiksi yang terjadi di mana-mana itu. Barangkali karena saya juga begitu mudah tergelincir pada dosa, bahkan di bulan yang dijanjikan Allah Setan dan Iblis ditahan, dan pintu neraka ditutup bagi orang beriman. Jika perbuatan buruk saja masih dapat dilakukan bahkan ketika sumber kejatuhan sudah ditahan, siapakah yang patut bertanggung jawab terhadap dosa selain manusia yang melakukannya? Kita tak bisa mengambinghitamkan Setan atau Iblis yang berusaha menggelincirkan manusia, karena tepat di bulan Ramadhan mereka tak bisa beraktivitas, dibekukan kemampuannya. Karenanya bagi seorang teman saya, Ramadhan bisa menjadi cermin yang paling tepat untuk menunjukkan kualitas kemanusiaan seseorang.

Kata Allah, puasa adalah satu-satunya ibadah yang balasannya akan Dia tentukan sendiri. Jadi, tentu saja shaum menjadi begitu istimewa. Dan saya tak mau kehilangan keistimewaan itu hanya gara-gara terlalu sinis menanggapi berbagai fenomena atau kontradiksi di bulan puasa. Cukuplah itu digunakan sebagai pengawas atau sikap kritis agar Ramadhan tak kehilangan makna. Tapi memang absurd membayangkan bahwa Ramadhan menjadi bulan penuh berkah jika di sisi lain kita justru menguarkan konsumerisme, berpura-pura, atau tetap tak bisa menjinakkan syahwat dan hawa nafsu. Sebab berpuasa sekadar berhenti makan, minum, melakukan hubungan seks selama beberapa jam sangatlah mudah dilakukan jika dibandingkan puasa dalam arti menggembalakan seluruh organ tubuh dan hati untuk tidak melakukan dosa sesedikit pun.

Jadi kalau begitu apa makna Ramadhan kali ini bagi saya? Saya hanya berharap bahwa kali ini saya bisa menimbang kedekatan diri dengan ritus-ritus Islam yang saya imani. Tentu ini pun sebuah harapan yang terlalu tinggi untuk seorang pemula yang berusaha menguatkan iman-iman rapuhnya. Banyak ulama bilang bahwa makna Ramadhan yang paling penting adalah mengukur sejauh apa kita bisa taat kepada Allah--minimal selama satu bulan. Jadi bukan mengukur seberapa bisa merasakan haus, lapar, dan menahan libido, atau merasakan kepapaan dan kelaparan kaum fakir. Allah hanya ingin melihat kita melakukan segala sesuatu tepat pada saat yang Dia izinkan. Begitu sederhana, begitu personal hubungan antara Khalik dan makhluk-Nya ketika Ramadhan. Dengan begitu kita langsung tahu sebenarnya seberapa berkualitas hubungan kita dengan Tuhan.

Tentu saja Ramadhan selalu dapat dikontekskan dengan masyarakat Islam dan Dunia setiap kali ibadah ini dilakukan. Namun bisa jadi tafsir itu terlalu jauh dan rumit, atau hanya cocok bagi mereka yang menyukai pandangan-pandangan baru terhadap sebuah kebiasaan klasik yang telah dilakukan ratusan tahun lalu. Semacam revitalisasi atau penambahan makna terhadap sebuah kebiasaan agar tidak jatuh menjadi rutinitas menjemukan. Apalagi jika kita selalu menghadapkan shaum dengan tantangan konsumerisme yang ada di mana-mana; kita bisa menilai seberapa besar kita mampu mengendalikan keinginan terhadap godaan duniawi. Sebab puasa tentu saja sudah lebih dari sekadar sebuah festival atau ritus, yang membuat hari-hari di dalamnya lebih semarak (dan bisa berbahaya jika diisi oleh ledakan petasan atau bom), melainkan sebuah peristiwa ketika manusia yang merasa umat Muhammad Saw. melakukan segala sesuatu secara seirama, seiring dan sehendak perintah Allah.

Konteks ruh dan fisikal sebuah ibadah memang selalu ada. Konteks ruh itu tak berubah sejak pertama kali puasa ada dalam budaya atau peradaban manusia: yakni menimbang kualitas hubungan Tuhan dengan hambanya. Sedangkan konteks fisikan/sosial sebuah ibadah selalu berubah-ubah sesuai dengan kecenderungan yang tengah terjadi pada saat kini. Coba, apakah Ramadhan ini akan mampu menghentikan agresi Amerika terhadap Irak, sebuah negara dengan penduduk Muslim sangat banyak? Apakah shaum kali ini akan mampu menahan ancaman gelombang banjir yang kata Sutiyoso (gubernur Jakarta yang keras kepala itu) merupakan cobaan Tuhan? Kita saksikan saja dengan kesabaran. Apakah puasa bisa mengkhidmatkan Anda pada sejumlah peristiwa sosial? Apa shaum bisa menahan saya dari berperilaku buruk pada istri? Yah... kita coba saja.

Coba apakah tidak mengharukan menyadari lebih dari satu miliyar orang secara bersama-sama menahan syahwatnya di siang hari? Coba tanyakan kepada mereka tahu soal-soal ruh/alam malakut, apa pengaruh spiritual dan fisikal sejumlah orang itu terhadap keberlangsungan sebuah kosmos? Tentu ada dampak baiknya jika jutaan orang di Bumi ini bersama-sama menahan dosa dan mencoba hanya melakukan sesuatu jika sudah waktunya. Kata orang alim, pilar-pilar Alam ini akan terus abadi begitu ada sejumlah orang baik melakukan amal saleh. Jadi, tanpa Anda sadari, ada sejumlah orang secara bersama-sama menahan Bumi ini dari masa kehancurannya.

Bayangkan bahwa ada semacam gerakan antimaksiat yang dilakukan secara massal. Ada sejumlah orang yang ingin berlatih kesabaran atau menguji ketakwaan di bawah perintah Tuhannya. Barangkali kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan itu bisa menyelamatkan kita dari sejumlah banyak malapetakan yang seharusnya kita terima akibat ketidakseriusan menjalani hidup sebagai manusia. Sebab shaum, sebagaimana saya kutip di awal wacana ini, bisa membawa amal kita ke hadapan Allah dalam keadaan yang terbaik. Jika kita semua bisa mengamini adanya gerakan flower generation, Gen X, yuppie, atau bahkan ritus-ritus masyarakat modern semacam Woodstock, Soundrenaline, dugem/clubbing, hiphop, festival, gerakan save sex, pakai kondom, kenapa tidak kita memaklumi dan memaknai puasa sebagai suatu gerakan massa yang diharapkan memiliki sejumlah gelombang pengaruh?

Tentu, ini hanya berlaku untuk mereka yang percaya/beriman pada adanya Allah. Nah bagaimana kalau tidak? Apa ada pengaruh melakukan shaum bagi orang lain, jiwa dan kemanusiaan? Ah, setidaknya tuan-puan, perhatikanlah ada sebuah subkultur yang mencoba berhemat di siang hari, beriktikad sungguh-sungguh melepaskan egoisitas dan melakukan kebaikan sebisa mungkin.[]wartax@yahoo.com

Thursday, October 31, 2002

Loak Stasiun Tebet: Sebuah Potret Singkat
================================

Di antara kesemrawutan stasiun Tebet yang tak bisa berhenti kecuali di saat-saat paling sepi, tempat ini memiliki sebuah pesona yang cukup mengasyikkan: pasar loak yang kadang-kadang memberi kejutan kepada pembelinya apabila dia tengah beruntung. Di tempat ini kita bisa mencari dan mendapatkan banyak hal: perabot rumah, elektronik, makanan, alat olahraga, majalah, kaset, CD-audio, video CD, bahkan buku. Ada banyak kios dengan beragam jualan.

Loak St. Tebet bisa di bagi dua tempat, bagian luar dan dalam stasiun. Bagian luar ada tepat di bawah jalan layang (fly over), dan bagian dalamnya bersatu dengan belasan kios yang ada di selasar stasiun itu. Kedua bagian itu memiliki kekhasannya sendiri. Yang di dalam, karena sumpek dengan ribuan penumpang KA, kadang-kadang tidak menyenangkan di lihat-lihat. Dua kios buku yang agak istimewa berada jauh di dalam, jadi kita harus rela berdesak-desakan dengan banyak orang. Tidak ada kios loak kaset di bagian ini, yang ada adalah penjual kaset & VCD bajakan. Buku baru yang dijual di sini menurut saya tampaknya bajakan juga. Yang di luar tampak lebih nyaman dilihat-lihat, justru karena tempatnya lebih lapang dan pengunjungnya sedikit,jadi tidak berdesak-desakan. Di sini tak ada buku baru bajakan, melainkan buku bekas.

Dulu, setahu saya, ada tiga kios kaset di sini. Tapi sekarang tinggal dua. "Sudah kerja di tempat lain, mas," kata seorang penjual kepada saya waktu menanyakan ke mana seorang penjualnya tidak ada sejak lama. Penjual kaset ini sekaligus menjual CD audio, yang kadang-kadang "koleksinya" membuat saya terkejut sama sekali. Kios buku ada tiga, dan satu kios menjual majalah bekas. Sisanya adalah alat-alat berat atau elektronik yang bagi saya tampak lebih sebagai rongsokan daripada sesuatu yang masih berharga. Tapi, siapa tahu. Seandainya kita beruntung atau rajin ke sini, kita sangat mungkin menemukan sesuatu yang tak di sangka-sangka. Akhr-akhir ini di samping orang berjualan barang dan makanan, sejumlah pasangan bertanding catur dengan sangat giat. Tidak tahu apakah mereka itu para pencari barang bekas yang mengaso karena kelelahan sehabis "berburu" barang, atau sedang taruhan. Memperhatikan mereka terpekur untuk saling mengalahkan, kadang-kadang membuat saya tersenyum: jangan-jangan jauh di dalam lubuk hati kita, kita memang memiliki niat untuk menghancurkan orang dengan cara yang paling kejam. Siapa tahu.

Di kios-kios di bawah jalan raya yang kendaraannya selalu dipacu kencang-kencang itu sudah beberapa kali membuat saya merasa sangat beruntung. Di sini saya bisa mendapatkan barang yang gagal saya cari-cari di tempat resmi atau toko besar. Atau tanpa di sangka-sangka mendapatkan barang yang ternyata sangat berharga. Tempat ini mengingatkan saya pada loak Cihapit di Bandung--hanya saja Cihapit nyaris dipenuhi oleh kios kaset, CD, baju, dan tape/audio mobil. Di Tebet, keadaannya tidak sebagus Cihapit. Tak ada penjual baju, perlengkapan tape/audio mobil, atau perlengkapan sekolah di sini. Tapi sekadar untuk mendapatkan kejutan, cukuplah. Hidup sudah sewajarnya diisi dengan banyak hal menyenangkan; sebab kesedihan dan luka sudah terlalu sering terjadi di sini. Jadi tak perlu di tambah nestapa itu. Kita di sini sewajarnya membuat hidup itu lebih menyenangkan.

Tentu saja semua barang di sini bisa didapat dengan harga sangat murah. Namanya juga loakan, meskipun barang itu kadang-kadang masih disegel rapi dan tampil manis. Baru-baru ini saya mendapatkan The Valkyries karya Paulo Coelho yang masyhur itu. Wah, alangkah senangnya menemukan buku itu masih dalam keadaan sangat bagus. Tak terhitung saya memebli karya Agatha Christie dari sini, untuk saya berikan kepada istri yang menyenangi karya-karya dia. Bahkan saya pernah menemukan jurnal Granta yang terkenal itu--meskipun tidak saya beli, karena tidak minat pada topiknya saat itu. Buku cerpen singkat Kawabata, Palm-of-hand Stories, saya peroleh di sini di sela-sela tumpukan novel murahan yang penuh oleh bau seks dan kriminalitas.

The Journey to The East (Hermann Hesse) juga saya beli di sini, meskipun keadaannya buruk. Karya Roddy Doyle yang dapat Booker Prize, Paddy Clark Ha Ha Ha, saya beli bersamaan dengan bukunya Saul Bellow, Seize the Day. Saya pernah memberi hadiah buku Carlos Castenada kepada seorang teman yang memberi tahu arti penting buku-bukunya pada ilmu sosial/antropologi, juga dari sini. Kumpulan saja Rendra saya dapati di sini beberapa bulan lalu. Yang sedikit mengesankan adalah saya menemukan sebuah kamus tentang istilah-istilah sihir, mistik, dan okultisme tepat setelah saya membaca buku JK Rowling. Dari sana saya bisa tahu lebih dalam tentang troll, mandrake, dan beragam makhluk halus dan istilah "dunia hitam".

Beberapa bulan lalu saya mendapati CD Nusrat Fateh Ali Khan tergeletak di sini, Devotional Songs. Sedangkan di Cihapit, saya menemukan album dia lainnya, Love Songs. Album Discus, sebuah band rock progresif Indonesia yang penting, yang saya cari-cari hingga putus asa ke pelosok toko kaset di Jakarta-Bandung, ternyata saya temukan di sini masih dalam keadaan dibungkus. Mengagumkan! Saya tak tahu apa sebenarnya di balik hal-hal seperti itu; kenapa kita justru kerap dipertemukan dengan sesuatu yang kita rindukan dengan cara yang tak disangka-sangka. Apa kita memang harus selalu belajar untuk bersabar?

Ovo, album Peter Gabriel sebelum Up, juga saya dapatkan di sini--juga dalam keadaan masih terbungkus. Padahal saya sudah memiliki itu sebelumnya. Saya tak tahan untuk membeli itu, untuk kemudian berharap bisa mengopernya ke orang yang juga "berhak." Keinginan saya itu kini tercapai. Tahu kepada siapa saya menjual lagi Ovo? Kepada Dinar Rahayu, penulis Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Everyday (Dave Matthews Band), Parachutes (Coldplay), Faith & Courage (Sinead O'Connor)--yang kata Time merupakan salah satu album sangat bagus--
dan beberapa kaset lain saya dapat dari sini.

Untuk Anda sekalian apa, tuan-puan? Kalau masih beruntung, Anda bisa menemukan banyak kaset klasik, sejumlah jazz, punk, metal, atau death metal. Sebuah album kompilasi penampilan penyanyi pada acara SNL (Saturday Night Life) masih ada di sini. Tampaknya itu bagus. Ada Pearl Jam, Sinead O'Connor, dan lain-lain. Single Coldplay juga masih ada. Bukunya, mungkin Arus Bali (Pramudya Ananta Toer) masih belum dibeli orang. Sebuah buku tulisan Nelson Mandela belum dibeli orang di sini. Juga My Life with Picasso, sebuah memoar seorang kawan Picasso tentang kehidupannya bareng maestro seniman dunia itu. Di mana pun, di tempat loak seperti itu ketersediaan dan kebutuhan selalu tak bisa kita sangka. Barang bisa lenyap begitu kita tak memusatkan perhatian padanya. Kita hanya bisa berharap pada kebaikan Alam untuk menjaga agar barang itu tidak ditemukan orang lain yang juga gemar berburu di tempat seperti ini. Atau Anda bisa meminta bantuan saya untuk menalanginya lebih dulu, ha..ha..ha...

Mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah adalah sebuah anugerah tersendiri bagi saya. Kadang-kadang, karena sering melihat-lihat, satu-dua penjual yang cukup akrab menawarkan barang agak khusus kepada saya. Tidak selamanya saya terima, karena walaubagaimanapun saya juga tidak bisa menentukan apakah akan beli atau tidak. Tapi, sebagai alternatif istirahat kantor dan jalan-jalan singkat setelah penat dengan komputer, orang-orang di sekitar, tempat itu bisa menenangkan saraf. Coba saja.

Apa saya harus sedih agak "menggantungkan" nasib pada kebaikan tukang loak itu? Barangkali tidak segitu menyedihkannya. Justru menyenangkan kadang-kadang disapa oleh seseorang yang tampaknya menghargai minat dan kesukaan kita. Minimal bisa saling berbagi senyum dan sapa. Perkara transaksi yang sudah sedikit itu tak jadi, bisa diganti di lain saat. Jadi kalau Anda bisa menyempatkan datang ke loak St. Tebet, silakan cari barang yang menarik di sini. Bukan untuk membeli bajakan buku, CD audio atau VCD, tapi barang loak: barang asli yang dijual kembali dengan harga murah. Siapa tahu Anda menemukan barang berharga di sini. Tuhan menyediakan banyak tempat untuk menyembunyikan khazanah-Nya. Percaya saja. Anda hanya perlu sekali-kali membuat kejutan buat diri Anda sendiri.[]wartax@yahoo.com
Loak Stasiun Tebet: Sebuah Potret Singkat
================================

Di antara kesemrawutan stasiun Tebet yang tak bisa berhenti kecuali di saat-saat paling sepi, tempat ini memiliki sebuah pesona yang cukup mengasyikkan: pasar loak yang kadang-kadang memberi kejutan kepada pembelinya apabila dia tengah beruntung. Di tempat ini kita bisa mencari dan mendapatkan banyak hal: perabot rumah, elektronik, makanan, alat olahraga, majalah, kaset, CD-audio, video CD, bahkan buku. Ada banyak kios dengan beragam jualan.

Loak St. Tebet bisa di bagi dua tempat, bagian luar dan dalam stasiun. Bagian luar ada tepat di bawah jalan layang (fly over), dan bagian dalamnya bersatu dengan belasan kios yang ada di selasar stasiun itu. Kedua bagian itu memiliki kekhasannya sendiri. Yang di dalam, karena sumpek dengan ribuan penumpang KA, kadang-kadang tidak menyenangkan di lihat-lihat. Dua kios buku yang agak istimewa berada jauh di dalam, jadi kita harus rela berdesak-desakan dengan banyak orang. Tidak ada kios loak kaset di bagian ini, yang ada adalah penjual kaset & VCD bajakan. Buku baru yang dijual di sini menurut saya tampaknya bajakan juga. Yang di luar tampak lebih nyaman dilihat-lihat, justru karena tempatnya lebih lapang dan pengunjungnya sedikit,jadi tidak berdesak-desakan. Di sini tak ada buku baru bajakan, melainkan buku bekas.

Dulu, setahu saya, ada tiga kios kaset di sini. Tapi sekarang tinggal dua. "Sudah kerja di tempat lain, mas," kata seorang penjual kepada saya waktu menanyakan ke mana seorang penjualnya tidak ada sejak lama. Penjual kaset ini sekaligus menjual CD audio, yang kadang-kadang "koleksinya" membuat saya terkejut sama sekali. Kios buku ada tiga, dan satu kios menjual majalah bekas. Sisanya adalah alat-alat berat atau elektronik yang bagi saya tampak lebih sebagai rongsokan daripada sesuatu yang masih berharga. Tapi, siapa tahu. Seandainya kita beruntung atau rajin ke sini, kita sangat mungkin menemukan sesuatu yang tak di sangka-sangka. Akhr-akhir ini di samping orang berjualan barang dan makanan, sejumlah pasangan bertanding catur dengan sangat giat. Tidak tahu apakah mereka itu para pencari barang bekas yang mengaso karena kelelahan sehabis "berburu" barang, atau sedang taruhan. Memperhatikan mereka terpekur untuk saling mengalahkan, kadang-kadang membuat saya tersenyum: jangan-jangan jauh di dalam lubuk hati kita, kita memang memiliki niat untuk menghancurkan orang dengan cara yang paling kejam. Siapa tahu.

Di kios-kios di bawah jalan raya yang kendaraannya selalu dipacu kencang-kencang itu sudah beberapa kali membuat saya merasa sangat beruntung. Di sini saya bisa mendapatkan barang yang gagal saya cari-cari di tempat resmi atau toko besar. Atau tanpa di sangka-sangka mendapatkan barang yang ternyata sangat berharga. Tempat ini mengingatkan saya pada loak Cihapit di Bandung--hanya saja Cihapit nyaris dipenuhi oleh kios kaset, CD, baju, dan tape/audio mobil. Di Tebet, keadaannya tidak sebagus Cihapit. Tak ada penjual baju, perlengkapan tape/audio mobil, atau perlengkapan sekolah di sini. Tapi sekadar untuk mendapatkan kejutan, cukuplah. Hidup sudah sewajarnya diisi dengan banyak hal menyenangkan; sebab kesedihan dan luka sudah terlalu sering terjadi di sini. Jadi tak perlu di tambah nestapa itu. Kita di sini sewajarnya membuat hidup itu lebih menyenangkan.

Tentu saja semua barang di sini bisa didapat dengan harga sangat murah. Namanya juga loakan, meskipun barang itu kadang-kadang masih disegel rapi dan tampil manis. Baru-baru ini saya mendapatkan The Valkyries karya Paulo Coelho yang masyhur itu. Wah, alangkah senangnya menemukan buku itu masih dalam keadaan sangat bagus. Tak terhitung saya memebli karya Agatha Christie dari sini, untuk saya berikan kepada istri yang menyenangi karya-karya dia. Bahkan saya pernah menemukan jurnal Granta yang terkenal itu--meskipun tidak saya beli, karena tidak minat pada topiknya saat itu. Buku cerpen singkat Kawabata, Palm-of-hand Stories, saya peroleh di sini di sela-sela tumpukan novel murahan yang penuh oleh bau seks dan kriminalitas.

The Journey to The East (Hermann Hesse) juga saya beli di sini, meskipun keadaannya buruk. Karya Roddy Doyle yang dapat Booker Prize, Paddy Clark Ha Ha Ha, saya beli bersamaan dengan bukunya Saul Bellow, Seize the Day. Saya pernah memberi hadiah buku Carlos Castenada kepada seorang teman yang memberi tahu arti penting buku-bukunya pada ilmu sosial/antropologi, juga dari sini. Kumpulan saja Rendra saya dapati di sini beberapa bulan lalu. Yang sedikit mengesankan adalah saya menemukan sebuah kamus tentang istilah-istilah sihir, mistik, dan okultisme tepat setelah saya membaca buku JK Rowling. Dari sana saya bisa tahu lebih dalam tentang troll, mandrake, dan beragam makhluk halus dan istilah "dunia hitam".

Beberapa bulan lalu saya mendapati CD Nusrat Fateh Ali Khan tergeletak di sini, Devotional Songs. Sedangkan di Cihapit, saya menemukan album dia lainnya, Love Songs. Album Discus, sebuah band rock progresif Indonesia yang penting, yang saya cari-cari hingga putus asa ke pelosok toko kaset di Jakarta-Bandung, ternyata saya temukan di sini masih dalam keadaan dibungkus. Mengagumkan! Saya tak tahu apa sebenarnya di balik hal-hal seperti itu; kenapa kita justru kerap dipertemukan dengan sesuatu yang kita rindukan dengan cara yang tak disangka-sangka. Apa kita memang harus selalu belajar untuk bersabar?

Ovo, album Peter Gabriel sebelum Up, juga saya dapatkan di sini--juga dalam keadaan masih terbungkus. Padahal saya sudah memiliki itu sebelumnya. Saya tak tahan untuk membeli itu, untuk kemudian berharap bisa mengopernya ke orang yang juga "berhak." Keinginan saya itu kini tercapai. Tahu kepada siapa saya menjual lagi Ovo? Kepada Dinar Rahayu, penulis Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Everyday (Dave Matthews Band), Parachutes (Coldplay), Faith & Courage (Sinead O'Connor)--yang kata Time merupakan salah satu album sangat bagus--
dan beberapa kaset lain saya dapat dari sini.

Untuk Anda sekalian apa, tuan-puan? Kalau masih beruntung, Anda bisa menemukan banyak kaset klasik, sejumlah jazz, punk, metal, atau death metal. Sebuah album kompilasi penampilan penyanyi pada acara SNL (Saturday Night Life) masih ada di sini. Tampaknya itu bagus. Ada Pearl Jam, Sinead O'Connor, dan lain-lain. Single Coldplay juga masih ada. Bukunya, mungkin Arus Bali (Pramudya Ananta Toer) masih belum dibeli orang. Sebuah buku tulisan Nelson Mandela belum dibeli orang di sini. Juga My Life with Picasso, sebuah memoar seorang kawan Picasso tentang kehidupannya bareng maestro seniman dunia itu. Di mana pun, di tempat loak seperti itu ketersediaan dan kebutuhan selalu tak bisa kita sangka. Barang bisa lenyap begitu kita tak memusatkan perhatian padanya. Kita hanya bisa berharap pada kebaikan Alam untuk menjaga agar barang itu tidak ditemukan orang lain yang juga gemar berburu di tempat seperti ini. Atau Anda bisa meminta bantuan saya untuk menalanginya lebih dulu, ha..ha..ha...

Mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah adalah sebuah anugerah tersendiri bagi saya. Kadang-kadang, karena sering melihat-lihat, satu-dua penjual yang cukup akrab menawarkan barang agak khusus kepada saya. Tidak selamanya saya terima, karena walaubagaimanapun saya juga tidak bisa menentukan apakah akan beli atau tidak. Tapi, sebagai alternatif istirahat kantor dan jalan-jalan singkat setelah penat dengan komputer, orang-orang di sekitar, tempat itu bisa menenangkan saraf. Coba saja.

Apa saya harus sedih agak "menggantungkan" nasib pada kebaikan tukang loak itu? Barangkali tidak segitu menyedihkannya. Justru menyenangkan kadang-kadang disapa oleh seseorang yang tampaknya menghargai minat dan kesukaan kita. Minimal bisa saling berbagi senyum dan sapa. Perkara transaksi yang sudah sedikit itu tak jadi, bisa diganti di lain saat. Jadi kalau Anda bisa menyempatkan datang ke loak St. Tebet, silakan cari barang yang menarik di sini. Bukan untuk membeli bajakan buku, CD audio atau VCD, tapi barang loak: barang asli yang dijual kembali dengan harga murah. Siapa tahu Anda menemukan barang berharga di sini. Tuhan menyediakan banyak tempat untuk menyembunyikan khazanah-Nya. Percaya saja. Anda hanya perlu sekali-kali membuat kejutan buat diri Anda sendiri.[]wartax@yahoo.com